KETIKA DILEMA ETIKA BISNIS BAGAI BUAH SIMALAKAMA



KETIKA DILEMA ETIKA BISNIS BAGAI BUAH SIMALAKAMA
“Kebanyakan perusahaan selalu mempersepsikan etika bisnis sebagai sesuatu yang normatif, sehingga gagal menjadikannya sebagai perilaku ataupun karakter kerja perusahaan dan insan perusahaan.” ~ Djajendra
Bagai buah simalakama; kuturuti aku mati emak, tak dituruti aku mati bapak, begitulah nasib diriku, bagaikan buah simalakama; ini adalah lirik lagu Melayu dari Rama Aiphama. Lirik lagu Melayu ini sedang membicarakan tentang dilema. Lagu ini jelas bersumber dari peribahasa Melayu ‘bagai makan buah simalakama’ yang artinya semua pilihan sama buruknya dan memiliki risiko yang sama.
Peribahasa bagai makan buah simalakama ini menjelaskan tentang pilihan. Di sini, pilihan itu wajib dilakukan, dan tak boleh memilih untuk tidak memilih. Jadi, wajib memilih walau kedua pilihan itu sama-sama merugikan. Artinya, tidak ada solusi tanpa pilihan, dan harus mampu berpikir dengan sangat jernih agar bisa memilih yang sedikit lebih baik dari yang lainnya. Sebab, di dalam pilihan ini semua pilihan sama buruknya, sama rusaknya, dan sama jeleknya.
Orang Melayu pada masa lalu sudah memilih buah simalakama untuk mengekspresikan dilema. Walau kita semua tahu bahwa sejak lama buah simalakama atau mahkota dewa sudah digunakan sebagai bahan obat. Tetapi, mengekspresikannya sebagai dilema di dalam peribahasa pastilah memiliki sebuah alasan yang tepat.
Dalam dunia bisnis, setiap pebisnis yang jujur pastilah ingin berbisnis secara etis. Untuk itu, mereka membangun tata kelola yang diperkuat dengan panduan etika bisnis dan kode etik kerja. Di mana, semua ini bertujuan untuk dapat berbisnis dengan landasan moral yang etis dari integritas yang unggul. Persoalannya, di dalam kehidupan, termasuk di dalam bisnis dan pekerjaan, tidak hanya hadir pemangku kepentingan (stakeholder) dengan perilaku etis, tetapi juga pemangku kepentingan dengan perilaku tidak etis.  
Perilaku tidak etis dari pemangku kepentingan adalah akar persoalan dilema etika bisnis, sehingga hal ini menjadikan dunia bisnis seperti harus memakan buah simalakama. Dunia bisnis sebagai sumber penciptaan nilai tambah dan kekayaan, bila dijalankan dengan perilaku etis, maka dia akan menjadi energi yang menciptakan pemerataan ekonomi, termasuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Buah simalakama dalam dunia bisnis muncul dari keserakahan; dari niat buruk yang ingin menghalalkan atau membolehkan segala sesuatu oleh dorongan nafsu pribadi; dan oleh dorongan keyakinan pribadi demi keuntungan diri sendiri. Bila saja setiap pemangku kepentingan mempersiapkan diri masing-masing dengan moral yang penuh integritas untuk bisa menjadikan etika bisnis sebagai perilaku, sikap, sifat, dan kebiasaan pola hidup; maka, dirinya akan cerdas menghadapi dilema etika, sehingga tidak harus menciptakan realitas seperti peribahasa buah simalakama.
Kebanyakan perusahaan selalu mempersepsikan etika bisnis sebagai sesuatu yang normatif, sehingga gagal menjadikannya sebagai perilaku ataupun karakter kerja perusahaan dan insan perusahaan. Diperlukan kesadaran dan gairah untuk melatih setiap insan perusahaan agar berperilaku etis, juga menyebarkan energi etis saat harus berurusan dengan pemangku kepentingan yang hadir dari berbagai latar belakang. Dan ini semua sangatlah ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang tegas dan jelas di dalam menjalankan etika dari integritas yang unggul.
Etika bisnis bila menjadi perilaku dari setiap pemangku kepentingan, maka dia akan menjadi energi positif, yang akan membuat perusahaan menuai kinerja terbaik dari sistem ekonomi bisnis yang bersih dan sehat. Apalagi bila sistem ekonomi dan bisnis berada di dalam tata kelola yang etis dari energi integritas pemangku kepentingan, maka dapat dipastikan dilema etika akan hilang secara otomatis.
Dilema etika bisnis muncul karena berkumpulnya energi negatif dari perilaku tidak etis dan rendah integritas. Hal inilah yang menyebabkan dunia bisnis harus memakan buah simalakama. Bila semua regulasi, kebijakan, dan pemangku kepentingan memiliki integritas yang tinggi; untuk menjadikan etika bisnis sebagai perilaku sehari-hari, maka buah simalakama pastilah menjadi obat yang menyehatkan tubuh perekonomian dan perusahaan.
Djajendra
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra