MENCEGAH PERILAKU KORUP DI TEMPAT KERJA



MENCEGAH PERILAKU KORUP DI TEMPAT KERJA
“Korupsi adalah perilaku dari rendahnya kejujuran dan hilangnya sifat baik di dalam diri. Bukan oleh rendahnya penghasilan, atau mahalnya kebutuhan hidup. Seseorang yang jujur, walaupun sedang sangat lapar, walaupun sedang sangat membutuhkan uang, dia tidak akan melakukan korupsi.” ~ Djajendra
Perilaku korup di tempat kerja tercipta dari kebiasaan ataupun kesenangan untuk mengambil yang bukan haknya dengan cara mencurangi perusahaan. Bagi oknum-oknum bermental korup melakukan korupsi sudah seperti hobi, sehingga sebaik apapun tata kelola dan sistem yang dibangun, mereka tetap akan menjadi lebih kreatif untuk bisa korupsi.
Pada umumnya, para pengusaha jujur selalu berupaya untuk menghilangkan korupsi dari DNA perusahaannya, tetapi mental-mental korup selalu cerdas bersembunyi di balik baju integritas, sehingga menjadi tidak mudah untuk diidentifikasi oleh sistem dan tata kelola.
Indeks Persepsi Korupsi 2009 yang diterbitkan oleh Transparency International (secara global) menunjukkan bahwa rata-rata, dua dari tiga perusahaan melaporkan kasus korupsi diinternalnya. Korupsi adalah bukti bahwa oknum-oknum bermental korup memiliki hobi untuk menyalahgunakan kepercayaan, kekuasaan, jabatan, dan tanggung jawab. Mereka yang suka korup ini biasanya tertawa dengan standar moralitas dan integritas yang dikembangkan oleh perusahaan. Karena dasarnya mereka ini adalah energi korup yang cerdas dan terlatih mindsetnya, sehingga persepsi dan logika berpikir mereka memandang korupsi sebagai sesuatu yang baik.
Perusahaan-perusahaan yang sadar akan bahaya korupsi terhadap keberlangsungan bisnisnya, pastilah secara terus-menerus melatih dan memberikan pencerahan kepada setiap insan perusahaan agar korupsi bisa diminimalkan. Salah satu upaya yang biasa dilakukan adalah dengan mengembangkan perilaku kerja yang taat etika bisnis dan kode etik kerja. Untuk itu, perusahaan akan membangun sistem pengawasan yang penuh integritas; serta melakukan proses internalisasi, indoktrinasi, ataupun motivasi secara terus-menerus, dengan harapan setiap insan perusahaan terpengaruh untuk patuh etika bisnis dan menguatkan integritas pribadi.
Ketika mencoba menemukan solusi dari berbagai studi kasus etika bisnis, akan terlihat akar persoalannya ada pada mental korup ataupun niat yang terencana untuk mengambil yang bukan haknya. Misal, sebuah perusahaan yang mengsubkontrakan sebagian pekerjaan dari mulai hulu hingga hilir; seperti pekerjaan penggalian, transportasi produk, pemeriksaan kualitas produk, dan pengiriman atau pengapalan produk. Dengan banyaknya bidang pekerjaan yang dikontrakkan, sering timbul moral hazard berupa kebiasaan untuk meminta ataupun menerima komisi tak resmi dari subkontraktor. Pihak subkontraktor biasanya akan memberikan komisi tersebut dalam berbagai bentuk, karena itu terkait dengan keberlangsungan bisnis mereka. Jelas, semua praktik ini melanggar etika bisnis. Padahal agar praktik ini tidak terjadi, perusahaan sudah memberikan gaji dan fasilitas yang sangat tinggi kepada karyawan yang bertanggung jawab atau yang melakukan pekerjaan tersebut. Jadi, persoalan korupsi di tempat kerja bukan oleh kecilnya gaji ataupun oleh lemahnya prosedur, sistem, manajemen, dan kepemimpinan. Tetapi, oleh oknum-oknum bermental korup yang tidak pernah kenyang dengan jumlah uang, dengan sedemikian rupa mampu menjadi energi yang menciptakan dampak sistemik, sehingga seolah-olah tanpa uang pelicin akan terjadi pelambatan proses bisnis. Dan pada akhirnya, membuat manajemen perusahaan kehilangan akal untuk berbisnis dengan mematuhi etika bisnis.
Para pengusaha yang berbisnis dengan etika dan integritas pastilah akan menjauhkan dirinya dari segala bentuk korupsi. Mereka selalu sadar dan belajar dari berbagai kasus korupsi, yang pada akhirnya sangat merugikan ataupun menghentikan operasional perusahaan tersebut. Pada dasarnya, orang-orang jujur di dunia bisnis sangat sadar bahwa oknum-oknum bermental korup, selalu berkembang biak diberbagai dimensi bisnis dan organisasi. Jadi, menghentikan korupsi dan kecurangan di dalam perusahaan bukanlah pekerjaan setahun, tetapi merupakan pekerjaan seumur hidup.
Dilema atau buah simalakama adalah sesuatu yang selalu akan muncul di dalam dunia bisnis. Hal ini akan menempatkan para pengusaha untuk menentukan pilihan dalam situasi sulit, walau semua pilihan itu berdampak buruk. Dalam hal ini, para pengusaha tidak akan mau kehilangan bisnis, karena tanpa bisnis perusahaan pasti ditutup, dan kelemahan ini sangat dipahami oleh oknum-oknum bermental korup, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Dan hal inilah yang akan menjadi akar dari timbulnya moral hazard. Karena merasa terdesak dan tidak punya pilihan untuk berbisnis secara etis, maka dilema ini akan mendorong manajemen perusahaan untuk menjalankan kegiatan bisnisnya sesuai dengan fakta di lapangan.
Realitas moral hazard ini memiliki risiko kejahatan yang sangat tinggi; berpotensi timbulnya penyalahgunaan wewenang, kekuasaan, dan jabatan; sehingga bila tertangkap tangan hukum, maka tamatlah karir dan reputasi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, kecerdasan emosional para pengusaha untuk tetap bekerja dan bersikap di jalur etis, adalah hal yang akan menguntungkan semua pihak dan juga perjalanan bisnis di masa depan.
Kuatkan komitmen perusahaan untuk mencerahkan integritas setiap insan korporasi dengan indoktrinasi agar mereka dapat menjauhi benih-benih korupsi. Sebab, sekali merasa nikmat dengan hasil korupsi atau hasil kecurangan, maka hal ini berpotensi menjadi kebiasaan, dan selanjutnya tidak mudah untuk dikontrol ataupun diberikan pencerahan.
Mencegah perilaku korup di tempat kerja haruslah dengan membudayakan perilaku etis di internal perusahaan. Untuk itu, perusahaan wajib merancang sistem, aturan, peraturan, kebijakan, alat kontrol, serta teknologi yang dapat membatasi perilaku tidak etis dan korup. Pengawasan dan sistem kontrol yang unggul wajib menjadi bagian dari budaya perusahaan. Termasuk, menjalankan prinsip kehati-hatian disemua dimensi aktivitas perusahaan.
Mental korup tidak akan pernah mati, karena dia itu seperti ideologi. Jadi, perusahaan harus selalu waspada akan bangkitnya energi korupsi di dalam perusahaan. Sedikit saja kontrol dilonggarkan, atau sistem dibebaskan, maka monster korupsi akan menguras kekayaan perusahaan, sehingga akhirnya skandal seperti Enron dan WorldCom berpotensi terjadi di dalam perusahaan.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra