MELINDUNGI ORGANISASI DARI PERILAKU TIDAK JUJUR



MELINDUNGI ORGANISASI DARI PERILAKU TIDAK JUJUR
“Orang cerdas bila perilakunya tidak jujur, dia akan menjadi sesuatu yang buruk untuk kehidupan.” ~ Djajendra
Pada awalnya, orang-orang suka kagum pada kecerdasan dan sopan santun seseorang. Pada akhirnya, orang-orang akan menilai seseorang dari perilaku jujur yang penuh integritas. Jadi, seseorang yang sangat terpelajar dan juga yang sangat cerdas, bila memiliki perilaku tidak jujur dan miskin integritas, maka dia akan dianggap sebagai sesuatu yang merusak kehidupan dan kebaikan.
Bila kecerdasan disalahgunakan untuk melayani ketidakjujuran, maka kecerdasan itu akan menjadi musibah untuk kehidupan. Sebab, ketidakjujuran adalah perilaku yang menyakitkan ataupun merugikan orang-orang yang menerima ketidakjujuran itu. Jadi, siapapun yang mempraktikkan perilaku tidak jujur, yang memperkaya diri sendiri, adalah energi negatif yang pasti menjatuhkan kinerja organisasi, dan merugikan para pemangku kepentingan.
Organisasi selalu menginginkan sumber daya manusia yang berpendidikan dengan prestasi tinggi, terampil, cerdas, beretos kerja profesional, kompetensi yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab, serta patuh pada etika dan integritas. Ini semua diharapkan menjadikan organisasi semakin kuat dan unggul dalam melayani tanggung jawab. Tetapi, sumber ketidakjujuran di dalam organisasi  juga selalu dimunculkan oleh orang-orang yang sangat pintar, berpendidikan sangat tinggi, sangat sopan, sangat bermoral tinggi, dan seolah-olah hidup dalam etika dan integritas tanpa celah.
Untuk orang-orang jujur yang sangat patuh pada etika dan integritas, saat terpaksa harus berurusan dengan seseorang yang tidak jujur, dan bila tidak punya pilihan sama sekali, mereka pastilah dirugikan dan sekaligus disakitkan. Mereka yang jujur pasti sulit melindungi diri dari kebohongan dan ketidakjujuran, karena tidak diberikan pilihan untuk bersikap jujur oleh yang tidak jujur. Pada akhirnya, mereka yang jujur tidak bisa melindungi diri dari efek buruk ketidakjujuran tersebut.
Agar kejujuran menjadi perilaku yang dipatuhi oleh semua orang, maka etika dan integritas wajib untuk diinternalisasikan secara rutin ke dalam mindset. Selanjutnya, etika dan integritas harus secara rutin diperiksa faktanya di lapangan, dan juga setiap hari harus direkam sikap dan perilaku orang-orang, untuk melihat apakah kejujuran sudah menjadi budaya yang menguatkan etika dan integritas.
Bila ketidakjujuran masih terlihat dalam rantai struktur organisasi, dan juga dalam rantai kepemimpinan, maka ketidakjujuran pasti menjadi lebih berkuasa dibandingkan kejujuran.
Melindungi organisasi dari perilaku tidak jujur adalah kewajiban. Bila organisasi dibiarkan ditangan orang-orang tidak jujur, mereka pasti menggerogoti seluruh potensi dan kekayaannya. Dan hal ini, akan menjadi penyebab kerugian ataupun penurunan kinerja  organisasi, walau organisasi sudah memiliki aset-aset produktif yang seharusnya tidak mungkin rugi.
Sistem yang hebat dan tata kelola yang luar biasa akan menjadi sia-sia oleh perilaku yang tidak jujur. Orang-orang tidak jujur adalah energi yang akan menggerogoti semua kebaikan dari sistem dan tata kelola tersebut, lalu mereka yang tidak jujur ini akan menularkan budaya tidak jujur. Dan pada akhirnya, organisasi akan kehilangan kekuatan jujurnya di dalam pelayanan dan pertanggungjawabannya.
Ketidakjujuran memiliki dampak yang merusak wibawa, moral, reputasi, dan kredibilitas organisasi. Jelas, kondisi ini akan menjadikan organisasi memiliki risiko yang sangat tinggi untuk kehilangan kinerja secara terus-menerus. Dan juga, pasti akan menyebabkan kerusakan pada pola kerja dan etos kerja, sehingga penurunan dan pelemahan di semua aspek organisasi menjadi berkelanjutan, yang dalam jangka panjang berpotensi mematikan organisasi.  
Perilaku tidak jujur haruslah dihadapi dengan sistem pengawasan yang penuh integritas untuk membangun budaya jujur. Sekuat apapun ketidakjujuran haruslah dihadapi dengan sabar dan penuh strategi. Ketidakjujuran pasti sangat pintar berbohong; pasti sangat pintar mencari cara untuk melindungi ketidakjujurannya; serta pasti sangat cerdas untuk menciptakan situasi dan perilaku yang seolah-olah dirinya adalah korban. Jadi, ketidakjujuran adalah energi dan karakter yang sangat mampu untuk memainkan peran pura-pura jujur, sehingga orang-orang awam akan kehilangan fokus atas perilaku tidak jujurnya.
Menyerah pada ketidakjujuran adalah kekalahan, yang membuat setiap orang akan masuk ke dalam kehidupan budaya organisasi yang tidak jujur. Organisasi dengan budaya tidak jujur hanya akan mampu menghasilkan hal-hal yang merugikan, menyakitkan, dan mengecewakan pemangku kepentingan.
Memotivasi kesadaran untuk berperilaku jujur tidaklah mungkin mempan untuk orang-orang yang mindsetnya sudah tidak jujur. Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang penuh disiplin untuk menguatkan sistem, tata kelola, serta pengawasan yang berfondasikan etika dan integritas.
Jadi, menghadapi ketidakjujuran tidaklah mungkin dapat diselesaikan sebatas pencerahan atau mempengaruhi moral dan hati nurani seseorang, tetapi wajib menjadi persoalan hukum yang adil dan tegas. Sebab, kehidupan ini adalah campuran dari orang-orang baik dan tidak baik. Hanya orang-orang baik yang dapat dipengaruhi melalui pencerahan, sedangkan orang-orang tidak baik akan selalu memelihara perilaku tidak jujur untuk keuntungan mereka.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra