TANPA ETIKA DALAM KEPEMIMPINAN BISNIS, PENYALAHGUNAAN AKAN BERKUASA


"Kekuatan tak terbatas cenderung merusak pikiran orang-orang yang memilikinya." ~ William Pitt , Perdana Menteri Inggris 1766-1778

Kekuasaan mutlak ditangan orang-orang  yang kuat integritas pribadinya, akan menjadikan kekuatan mutlaknya itu diawasi secara otomatis oleh kekuatan etika. Sedangkan kekuasaan mutlak ditangan orang-orang  yang rendah integritasnya, akan merusak kualitas kekuasaan yang dimiliki, dan berpotensi melemahkan kekuatan etika yang ada di dalam perusahaan.
Cara mencegah penyalahgunaan kekuasaan kepemimpinan di dalam bisnis adalah dengan menjalankan etika bisnis, sepenuh hati dari tanggung jawab dan integritas pribadi.
Pengabaian terhadap etika akan meningkatkan risiko. Etika adalah rem yang menjaga batas dan tanggung jawab seseorang di dalam organisasi. Batas dan tanggung jawab ini selain bersumber dari kebijakan perusahaan, juga bersumber dari kekuatan moral pribadi dan moral organisasi.
Kekuasaan setiap pemimpin bisnis wajib menjadi terbatas. Bila kekuasaan menjadi tak terbatas, maka akan terjadi peningkatan risiko di semua aspek organisasi, dan juga akan sering terjadi keputusan-keputusan yang tanpa disadari telah melanggar etika.
Dalam realitas kepemimpinan di tempat kerja, sering sekali para pemimpin jujur dan pintar untuk menanggapi kekuatan dan kelemahan orang lain. Tetapi, saat harus menilai dirinya sendiri, ia akan menjadi tidak jujur. Sebab, kekuasaan dan kekuatan yang ia miliki telah meningkatkan ketidaksadaran ego atas pentingnya etika dan integritas, sehingga ego marah kalau kepentingannya dikoreksi.
Bila kepemimpinan yang sangat berkuasa mengabaikan etika, maka tidak seorangpun yang akan berani untuk memberikan pendapat tentang hal ini. Biasanya, semua orang akan pura-pura tidak tahu ketika melihat penyimpangan etika. Alasan orang pura-pura tidak tahu, karena ketakutan mereka untuk menyinggung perasaan dan kehormatan dari kekuasaan tertinggi mereka.
Penyimpangan etika yang bersumber dari puncak organisasi sangatlah berisiko tinggi. Salah satu contohnya adalah perusahaan energi terbesar di dunia, Enron. Penyimpangan etika yang bersumber dari puncak organisasi  telah membuat Enron bangkrut.   
Kekuasaan dan kekuatan kepemimpinan wajib tunduk pada kekuasaan etika dan integritas. Sebab, hal ini akan menjadikan  kepemimpinan lebih rendah hati untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan di dalam perusahaan.
Kejujuran kepemimpinan atas operasional dan tindakan akan menurunkan risiko yang merugikan perusahaan. Kejujuran akan meningkatkan kualitas moral dari setiap orang, dan juga membudayakan perilaku etis yang kuat di semua aspek organisasi.
Perilaku etis akan menjadi energi peningkatan karir. Bila kepemimpinan cerdas menciptakan budaya dan lingkungan kerja yang taat etika dan memiliki loyalitas kepada kemajuan pencapaian tertinggi organisasi, maka setiap orang berpotensi tumbuh dan besar bersama perusahaan.
Kepemimpinan yang etis biasanya ikhlas untuk mendengarkan suara dari bawahan, serta tidak mengabaikan setiap kritikan dari manapun.
Kepemimpinan yang etis sadar akan aksesnya ke sumber daya perusahaan, sehingga ia akan menciptakan sistem yang kuat agar aksesnya ini berada di dalam transparansi dan akuntabilitas maksimal.
Kepemimpinan yang etis selalu memperkuat sistem dan tata kelola agar check and balances di setiap operasional perusahaan mampu mencapai tingkat yang lebih maksimal.
Kepemimpinan yang etis selalu bekerja tanpa henti untuk menghasilkan perbaikan berkelanjutan.
Kepemimpinan yang etis tidak akan sampai hati mengambil imbalan finansial yang lebih besar, saat keuangan perusahaan sedang dalam kekuarangan.
Kepemimpinan yang etis selalu menjalani pola hidup dengan kerendahan hati, mendengarkan, membuat keputusan dengan hati-hati, lebih tegas dan pasti, serta membuat budaya kerja yang terpercaya di dalam kolaborasi yang etis.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra