PERUSAHAAN JATUH KARENA MELALAIKAN ETIKA DAN INTEGRITAS




PERUSAHAAN JATUH KARENA MELALAIKAN ETIKA DAN INTEGRITAS
“Bila moral individu di dalam perusahaan rusak, maka perusahaan akan melakukan praktik bisnis yang menyimpang dari etika, serta bermain spekulasi dengan risiko.” ~ Djajendra
Melalaikan etika dan integritas akan membuat perusahaan melemah hingga akhirnya tidak berdaya.
Salah satu contoh yang paling menghebokan dunia bisnis adalah skandal Enron Corporation yang terjadi pada akhir tahun 2001. Sebagai perusahaan energi terbesar di dunia, Enron harus jatuh untuk selamanya. Padahal, bisnis yang digeluti Enron memiliki prospek dan pangsa pasar yang luar biasa.
Praktik tata kelola dan bisnis yang melalaikan etika dan integritas telah membuat Enron Corporation mengalami kebangkrutan.  Dan, jatuhnya Enron Corporation sekaligus membongkar kolaborasi dari salah satu kantor akuntansi publik terbesar di dunia, yaitu Arthur Andersen dalam partisipasinya untuk melalaikan etika dan integritas.
Walau kejayaan Enron telah lama berakhir. Tetapi, pelajaran yang ditinggalkan oleh Enron tidaklah boleh dilupakan oleh semua pelaku bisnis. Kisah Enron Corporation haruslah dijadikan sebagai alat pengingat bahwa tata kelola bisnis tanpa etika dan integritas, berpotensi membuat perusahaan gagal dan bangkrut.
Sehebat apapun kepemimpinan dan budaya perusahaan, bila melalaikan etika dan integritas, maka energi negatif akan melemahkan moral organisasi. Dan, moral yang lemah tersebut akan menghasilkan virus yang mematikan perusahaan.
Jatuhnya perusahaan-perusahaan oleh persoalan etika dan integritas sesungguhnya sangatlah banyak.  Ada yang terekspos dan menjadi berita besar, tetapi banyak juga yang mati diam-diam, tanpa publikasi.
Tentunya, di era tata kelola bisnis yang sekarang ini, etika dan integritas merupakan sesuatu yang wajib agar para pemimpin perusahaan tidak terjebak dalam masalah hukum. Selain itu, energi transparansi dan akuntabilitas juga wajib menjadi penguat etika dan integritas.
Bila pemimpin bisnis masih suka melalaikan atau pura-pura melupakan etika dan integritas, maka penyimpangan oleh perusahaan akan menjadikan perusahaan selalu bergejolak dalam krisis dan kesulitan. Jelas, hal ini akan menciptakan pengangguran baru, serta membuat para karyawan dan keluarganya menderita karena kehilangan penghasilan.
Mematuhi etika dan integritas adalah wujud dari rasa tangung jawab sosial perusahaan. Khususnya terhadap para pemangku kepentingan,  seperti: karyawan, pemegang saham, pelanggan, pemasok, bank, dan stakeholders lainnya yang terkait langsung dengan operasional perusahaan.
Tentu saja, etika tidak selalu hitam dan putih. Etika juga berpotensi untuk berhadapan dengan situasi yang menyebabkan pilihan sulit. Tetapi, selama semua pilihan itu dilakukan dari prinsip-prinsip yang solid untuk meningkatkan daya tahan perusahaan, maka hal itu sah-sah saja. Dan yang penting, secara keseluruhan haruslah dipastikan kesehatan perusahaan tetap kuat, serta berada di jalur yang etis.
Etika dan integritas adalah inti dari keberhasilan jangka panjang yang berkelanjutan. Tanpa etika dan integritas, tidak ada strategi yang dapat bekerja dengan baik. Sebab, walau perusahaan diisi dengan orang-orang paling cerdas dan paling berpengalaman, tetapi bila mereka tidak menunjukkan etika dan integritas, maka mereka akan mengalami peristiwa kerusakan moral. Bila moral organisasi rusak, maka organisasi akan melakukan praktik bisnis yang menyimpang dari etika, serta bermain spekulasi dengan risiko.
Menciptakan budaya perusahaan yang etis dengan cara mengembangkan prinsip-prinsip kerja dari kekuatan integritas, akan menjadikan perusahaan berkontribusi secara kuat untuk kehidupan tanpa korupsi.
Perilaku bisnis yang suka melalaikan etika dan integritas, akan berkontribusi untuk menciptakan perilaku pemangku kepentingan yang tidak jujur, serta berpotensi menghadirkan pola hubungan yang curang dan penuh korupsi.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra