KOLABORASI MERINGANKAN BEBAN BESAR



“Kolaborator tidak mengenal musuh dan teman, mereka hanya mengenal kepentingannya. Dan akan bekerja sama dengan pihak manapun, dengan siapapun agar mendapatkan kekuatan yang lebih besar, untuk memenangkan tujuan kelompoknya, yang bila dikerjakan sendiri tidak mungkin bisa berhasil.” ~ Djajendra

Kolaborasi adalah perbuatan kerja sama dengan siapapun yang didasarkan oleh kepentingan bersama. Kolaborasi dapat terjadi dengan musuh, dengan orang-orang yang berbeda ideologi, dan dengan siapa saja selama kepentingannya itu sama.
Kolaborasi bisa berada di dalam kekuatan baik ataupun kekuatan tidak baik. Ketika kekuatan tidak baik berkolaborasi dalam wujud berkomplot, bersekutu, berangkulan, bermitra, dan saling bekerja sama untuk niat tidak baik mereka; maka, kekuatan tidak baik tersebut akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.
Demikian juga dengan kekuatan baik. Bila kekuatan baik berkolaborasi untuk mewujudkan niat dan tujuan baik mereka, maka kekuatan baik ini akan menjadi solid untuk memenangkan niat dan tujuan mereka.
Karena dasar kolaborasi adalah kepentingan dan bukan bersumber dari keyakinan, ideologi, maupun visi yang berkelanjutan; maka, kolaborasi sering sekali sifatnya jangka pendek, dan saat kepentingannya tercapai, semua kolaborator akan kembali ke sifat aslinya, yaitu hidup demi kepentingannya sendiri dan bukan kepentingan kolektif dari semua kolaborator.
Ketika para kolaborator mencapai kepentingannya, maka setiap kolaborator akan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan situasi kolaborasi keseluruhan. Dan biasanya, tidak akan ada pencapaian pada visi yang digambarkan, karena saat kemenangan didapatkan, mulai saat itu sifat asli dari para kolaborator akan muncul, untuk memaksimalkan keuntungan dan kepentingan kelompok masing-masing.
Kolaborator sering sekali terjebak dalam perangkap oligarki. Dalam bisnis dan politik hal ini sudah biasa terjadi. Beberapa perusahaan yang berkolaborasi untuk menguasai sebuah bisnis, akan membatasi ataupun mematikan kemunculan pebisnis baru dibidang yang mereka kuasai. Intinya, para kolaborator itu ingin menguasai dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak atas semua kepentingan mereka.
Demikian juga dalam politik, beberapa partai politik akan berkolaborasi untuk memenangkan pemilu, lalu menjalankan kekuasaan ataupun pemerintahan secara bersama-sama. Dalam praktik kolaborasi yang oligarki, biasanya hanya akan menguntungkan para kolaborator. Dan juga, para kolaborator itupun masing-masing akan berkonflik di internal mereka, karena sifat asli mereka hanyalah untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing.
Kolaborasi bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan di internal organisasi. Sebab, sebuah organisasi terbentuk oleh fungsi, peran, struktur, sistem, prosedur, budaya, tata kelola, dan kepemimpinan yang sifatnya permanen. Sedangkan kolaborasi sifatnya mencapai sebuah kepentingan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu. Jadi, kolaborasi hanyalah sesuai untuk diterapkan terhadap tim yang ditugaskan untuk mencapai sebuah target atau goal dalam jangka waktu tertentu.
Penerapan kolaborasi di dalam tim kerja membutuhkan fondasi kepercayaan dan pengaruh. Kepercayaan dan pengaruh haruslah ditanamkan oleh pimpinan tim kepada setiap anggotanya agar mereka mau menjadi kolaborator yang efektif, untuk mencapai sebuah target atau goal yang dipercayakan kepada tim mereka. Dan harus diingat bahwa kolaborasi di tim kerja bukanlah murni kolaborasi. Sebab, setiap anggota tim sebagai kolaborator masih bisa dikendalikan oleh perusahaan melalui visi, misi, dan nilai-nilai kerja yang mengikat mereka dalam loyalitas. Karyawan atau anggota tim yang menjalankan peran kolaborator masih tergantung kepada gaji, perintah, kebijakan, budaya, tata kelola, dan prosedur perusahaan. Jadi, mereka tidak mungkin berperilaku seperti para kolaborator dalam kolaborasi murni.
Kolaborasi murni pada umumnya terjadi antar negara oleh sebuah kepentingan bersama, antar partai politik juga oleh kepentingan bersama, dan antar perusahaan untuk mengamankan kepentingan bisnis mereka secara keseluruhan. Dalam hal ini, kesetiaan peserta kolaborator tidaklah dapat dijamin. Potensi pengkhianatan terhadap kolaborasi tetaplah besar. Sebab, mereka berkolaborasi bukan untuk mewujudkan visi atau mimpi bersama, tetapi untuk memenangkan kepentingan masing-masing dengan memanfaatkan energi besar dari kekuatan kolaborasi tersebut.
Kolaborasi bertujuan untuk meringankan beban besar. Tetapi, karena energi kolaborasi ada di dalam kepentingan, maka energi ini pada akhirnya hanya akan memanfaatkan kekuatan besar, untuk mewujudkan kepentingan kelompok, tanpa peduli kepada kepentingan yang lebih luas.
Kolaborator selalu akan berhadapan dengan situasi yang lebih kompleks setelah mencapai kemenangan atas perjuangan mereka. Setelah mereka sukses meraih kemenangan dari kolaborasi mereka, selanjutnya mereka akan masuk ke dalam dunia nyata sehari-hari. Di sini, mereka akan berhadapan dengan realitas bahwa mereka bersumber dari perbedaan-perbedaan yang sangat tajam. Perbedaan-perbedaan itu bisa saja dari ideologi yang sangat jauh, pola pikir, ataupun karena sebelumnya sudah menjadi musuh klasik. Jadi, setelah menang, para kolaborator bisa lebih dramatis lagi perjuangannya untuk mewujudkan kepentingan masing-masing.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra