KEPEMIMPINAN YANG MENDENGARKAN SUARA PUBLIK


“Pemimpin hari ini haruslah mendengarkan suara publik, dan ikhlas menjadi murid yang tekun untuk mempelajari inti dari suara publik. Mengabaikan suara publik akan menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang tidak mendapatkan tempat di hati publik.” ~ Djajendra
 
Di zaman pengetahuan dan informasi ini, mendengarkan haruslah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kepemimpinan.
Salah satu kewajiban pemimpin publik adalah mendengarkan suara publik, dan membuka hati nurani untuk melayani semua orang dengan profesional.
Kekuatan jaringan media sosial telah menjadi senjata publik untuk mengoreksi kepemimpinan publik yang lemah integritas dan kompetensinya.
Hiruk-pikuk suara publik haruslah didengarkan, dan tidak boleh diabaikan.
Bila pemimpin tidak membuka hati dan kesadarannya untuk mendengarkan suara publik, maka pemimpin akan ditinggalkan atau dijadikan musuh publik.
Kekuatan media sosial bersama kemajuan teknologi internet dan komunikasi telah membuat kehidupan publik seperti di dalam rumah kaca, di mana setiap orang dapat memahami apa yang sedang dilakukan oleh yang lain.
Bukan lagi zamannya untuk berpura-pura, atau merasa pintar dengan strategi dan taktik yang tersembunyi. Publik saat ini tengah mengalami pencerahan dan pencerdasan dari kekuatan pengetahuan yang ada di berbagai situs di internet.
Setiap pemimpin harus sadar bahwa cara berpikir, emosi, kata-kata, ucapan, perilaku, tindakan, dan sikapnya di ruang publik, diikuti oleh publik.
Setiap hari jumlah masyarakat yang cerdas terus tumbuh oleh pengaruh pengetahuan dari kemajuan internet. Pola pikir dan wawasan pemimpin di ruang publik dapat dipelajari oleh publik. Publik selalu memiliki persepsi dan logika berpikir terhadap kualitas dan kapasitas pemimpin.
Pemimpin yang cerdas pastilah akan menjadikan integritas sebagai energi yang memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kompetensi. Lalu, menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan yang lebih jujur untuk mendengarkan suara publik.
Pemimpin harus mencapai kedewasaan pola pikir dan emosi agar lebih rendah hati untuk mendengarkan. Sebab, suara publik kadang enak untuk didengarkan, tetapi sering juga tidak nyaman untuk didengarkan. Jadi, bila pemimpin sudah memiliki mental yang bijak, dan emosi yang cerdas, maka dirinya dapat menjadi pendengar yang bijak dan cerdas.
Pendengar yang cerdas mampu memahami suara publik, dan mengelolanya untuk mendapatkan informasi yang tepat.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra