DEMORALISASI LINGKUNGAN KERJA DAN MENGUATNYA BUDAYA KONFLIK




DEMORALISASI LINGKUNGAN KERJA DAN MENGUATNYA BUDAYA KONFLIK
“Kepemimpinanlah yang paling bertanggung jawab atas efek demoralisasi di tempat kerja. Ketidakdewasaan pola pikir kepemimpinan, rendahnya kecerdasan emosional, serta lemahnya pengetahuan moral dan etika, akan menjadikan kepemimpinan sebagai sumber penyebab demoralisasi karyawan di tempat kerja, termasuk sebagai akar masalah dari penurunan kualitas kerja dan budaya kerja.”~ Djajendra
Lingkungan kerja yang penuh dengan perang dingin sangatlah tidak sehat. Nama besar dan kantor yang mewah bukanlah sebuah jaminan, akan adanya kehidupan kerja yang bahagia dan harmonis. Selama pikiran negatif, emosi buruk, perilaku tidak etis, serta perasaan paling benar dan paling pintar menguasai batin individu di dalam perusahaan; maka selama itu mereka akan menyebarkan virus yang melemahkan budaya kerja, serta menjadi penyebab konflik berkelanjutan di internal perusahaan.
Di dalam perusahaan yang tidak saling menghormati, serta terbiasa dengan perilaku paling tahu dan paling berhak, maka penurunan harga diri dan moral kerja berpotensi menjadikan proses kerja tidak efektif. Selanjutnya, hal ini akan terus memburuk di dalam konflik perang dingin, yang pada akhirnya akan menghilangkan potensi dan peluang luar biasa dari keunggulan sumber daya manusia.
Semua sikap, sifat, perilaku, dan kebiasaan negatif di tempat kerja adalah penyebab rendahnya produktivitas, dan tingginya perasaan tidak bahagia di tempat kerja. Energi negatif yang dikeluarkan oleh setiap individu di tempat kerja, akan menyebar seperti virus untuk memperlemah daya tahan budaya kerja. Apalagi bila energi negatif ini dikeluarkan oleh para manajer yang berada di dalam struktur organisasi, maka dampak kerusakan budaya kerja akan sangat luar biasa.
Lingkungan kerja adalah ruang dan waktu yang mempertemukan orang-orang, yang wajib berurusan satu sama lain, setiap hari. Jadi, bila di dalam hubungan setiap hari ini, energi negatif menjadi bagian yang paling berkuasa, maka pastilah lingkungan kerja tersebut akan menjadi beracun, dan merusak suasana hati orang-orang didalamnya untuk berkontribusi dengan sepenuh hati.
Kesadaran untuk mengenali lingkungan kerja sangatlah penting. Bila setiap orang hanya mengikuti kemauan ego dirinya sendiri, serta mengabaikan hal-hal positif pembentuk keharmonisan dan soliditas kerja, maka tidaklah mungkin lingkungan kerja akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, realitas lingkungan kerja saat ini adalah sebuah cerminan yang memperlihatkan wajah asli dari kualitas moral sumber daya manusia perusahaan.
Kepemimpinan di dalam perusahaan, mulai dari tingkatan manajemen atas, tengah, dan bawah, sangatlah menentukan proses penguatan lingkungan kerja yang positif, yang kadar konfliknya rendah. Dalam hal ini, kepemimpinan dari semua tingkatan di struktur organisasi harus tampil proaktif dengan perilaku etis dan sikap baik.  Bila kepemimpinan di dalam perusahaan ikut-ikutan berkontribusi di dalam konflik yang saling merobek budaya kerja, maka perang dingin bisa meningkat menjadi perang terbuka. Yang hasilnya, setiap hari diisi dengan pertengkaran oleh kerusakan etika dan integritas.
Lingkungan kerja berbudaya konflik biasanya terlihat dari disiplin kerja yang rendah; dari tingginya aliran gosip kantor yang merusak moral kerja; politik kerja oleh komplotan yang saling bergerombol untuk memenangkan kepentingannya; kepemimpinan yang ragu dan tidak tegas untuk menjalankan kode etik kerja; serta moral kerja manajemen yang rendah, yang menyebarkan perilaku tidak sopan, dan tidak etis diantara karyawan di dalam lingkungan kerja.
Perilaku dan penampilan seorang manajer yang sombong dan tidak mengerti tata krama komunikasi, bahkan penampilan seorang supervisor yang ketus dan pedas, akan menjadi energi negatif yang secara perlahan-lahan merusak dan memperlemah budaya kerja.  
Kepemimpinanlah yang paling bertanggung jawab atas efek demoralisasi di tempat kerja. Ketidakdewasaan pola pikir kepemimpinan perusahaan, rendahnya kecerdasan emosional, serta lemahnya pengetahuan moral dan etika, akan menjadikan kepemimpinan sebagai sumber penyebab demoralisasi karyawan di tempat kerja, termasuk sebagai akar masalah dari penurunan kualitas kerja dan budaya kerja.
Ditingkatan pelaksana kerja, karyawan hanya memiliki kemampuan untuk mengontrol tindakan dan reaksi dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mengontrol reaksi, tindakan, dan apa yang orang lain katakan dan lakukan. Sebab, mereka hanyalah karyawan pelaksana yang tidak memiliki kekuasaan atau otoritas. Mereka hanyalah fungsi proses kerja, yang menjalankan rutinitas pekerjaan untuk diakumulasikan ke dalam hasil akhir. Jadi, peran karyawan pelaksana hanyalah sebatas tukang yang menjalankan perintah dari pekerjaan dan kepemimpinan. Oleh karena itu, kepemimpinan perusahaan harus menjadi contoh dan teladan yang memperlihatkan perilaku etis dan tata krama di dalam menciptakan budaya kerja yang harmonis dan unggul. Sebab, hanya para pemimpinlah yang memiliki kekuasaan dan otoritas untuk mengatur setiap perilaku, sikap, sifat, tindakan, dari siapapun di dalam organisasi. Menjadi pemimpin yang kuat dengan integritas, etika, dan profesionalisme kerja; akan menjadikan pemimpin tersebut sebagai energi positif yang memperkuat budaya kerja, serta memperkuat lingkungan kerja menjadi lebih produktif dan harmonis.
Kepemimpinan dan manajemen yang cerdas, pasti tidak akan menginginkan lingkungan kerja, yang bermoral rendah dan penuh konflik. Semakin cerdas kepemimpinan dan manajemen melengkapi lingkungan kerja perusahaan dengan sikap, perilaku, sifat, dan tata krama yang etis; semakin kuat dan berkualitas lingkungan kerja tersebut. Setiap langkah yang terlambat untuk memperbaiki lingkungan kerja, akan menjadikan semakin rusak budaya kerja oleh efek demoralisasi, yang dampaknya pasti merugikan kepemimpinan dan manajemen.
Tidaklah boleh seorangpun yang membenarkan perilaku buruk, apalagi perilaku yang menyakiti atau merugikan orang lain di tempat kerja. Setiap ketidakjujuran dan ketidakaslian jati diri hanya akan menjadi energi negatif, yang mengkontribusikan hal-hal buruk ke dalam sistem kerja. Oleh karena itu, penguatan integritas dan etika yang terus-menerus haruslah menjadi pekerjaan yang tidak boleh dilupakan oleh manajemen perusahaan.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra