CORPORATE CORE VALUES SERING KALI MENJADI KATA-KATA MANIS YANG TIDAK DIJALANKAN DENGAN BENAR



CORPORATE CORE VALUES SERING KALI MENJADI KATA-KATA MANIS YANG TIDAK DIJALANKAN DENGAN BENAR
“Nilai-nilai inti perusahaan yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, akan menciptakan perilaku kerja dan moral kerja yang sesuai dengan misi dari nilai-nilai tersebut.”~ Djajendra
Setiap perusahaan dan organisasi selalu memiliki nilai-nilai (values) untuk dijadikan sebagai prinsip dalam berperilaku kerja. Biasanya, nilai-nilai inti perusahaan tersebut ditempatkan diberbagai sudut ruang kantor, lobi, pabrik, di depan lift, bahkan dijadikan buku saku untuk dimiliki setiap karyawan.
Kata-kata seperti integritas, kerja sama, pelayanan, komunikasi, profesional, dan lain sebagainya selalu terukir indah untuk mengekspresikan komitmen terhadap cara menjalankan perusahaan atau organisasi dengan baik.
Dari pengamatan penulis, sejak tahun 1990 an sampai dengan sekarang, sudah sangat banyak perusahaan besar yang pernah memiliki nilai-nilai inti perusahaan yang luar biasa kuat, ternyata jejak perusahaannya pun sekarang sudah tidak ada.
Khusus di Indonesia, sebagian dari perusahaan-perusahaan raksasa yang pernah berjaya dengan nilai-nilai inti perusahaan yang indah dan kuat, harus gagal oleh badai krisis pada tahun 1998. Jadi, walaupun mereka telah memiliki nilai-nilai dan tata kelola yang profesional, tetapi gagal oleh berbagai penyebab yang bersumber dari ketidakmampuan mereka untuk menemukan solusi atas krisis.
Semua orang dalam dunia bisnis pasti tidak akan pernah lupa tentang kegagalan raksasa bisnis berskala dunia, yaitu Enron Corporation. Apa yang kurang dari Enron? Semua hal-hal yang sempurna telah dimiliki Enron. Mulai dari tata kelola dengan konsep good corporate governance, nilai-nilai inti perusahaan yang terukir indah di atas marmer kantornya, sumber daya manusia pilihan dari berbagai universitas terbaik, dan reputasi yang membuat dunia hormat kepada Enron.
Semua kesempurnaan Enron Corporation harus berakhir oleh skandal bisnis dan tata kelola pada tahun 2001. Dampaknya, lebih dari dua puluh ribuan karyawan harus kehilangan pekerjaan, karena Enron bangkrut.
Kisah Enron menceritakan bahwa kata-kata indah yang dipancarkan oleh nilai-nilai inti perusahaan (corporeta core values), ternyata bukanlah sesuatu yang dijalankan dengan sepenuh hati dan totalitas melalui perilaku sehari-hari. Padahal, nilai-nilai inti perusahaan dibuat bukan sebagai alat pajangan, tetapi sebagai alat untuk pembentukan mindset sesuai dengan nilai-nilai tersebut, termasuk internalisasi nilai-nilai agar perilaku dan budaya kerja selaras dengan makna yang terkandung di dalam masing-masing nilai tersebut.
Integritas, komunikasi, respect, excellence adalah nilai-nilai inti Enron yang pernah terukir diberbagai sudut kantor Enron. Tetapi, setelah Enron terlibat dalam skandal pelanggaran etika, maka semua orang dapat belajar bahwa nilai-nilai inti Enron tidak lebih sebagai alat propaganda, untuk menunjukkan tentang tata kelola usaha yang profesional dan terukur risikonya.
Artinya, semua ekspresi dari core values nya Enron, tidak lebih sebagai kata-kata pemanis yang sama sekali tidak tercermin di dalam perilaku kerja sehari-hari. Dan jelas, apa yang pernah dipraktikkan di dalam Enron, sampai sekarang sesunggunya masih dipraktikkan oleh banyak perusahaan maupun organisasi.
Integritas selalu dicantumkan oleh semua perusahaan dan organisasi sebagai nilai terpenting dari nilai-nilai perusahaan yang lain. Tetapi, sangat sedikit yang mampu mempraktikkan integritas di dalam perilaku kerja dan perilaku bisnis sehari-hari. Padahal, bila menjalankan integritas dengan sepenuh hati, maka peristiwa yang pernah melanda Enron pasti dapat dihindari.         
Corporate core values haruslah menjadi fondasi karakter kerja, serta wajib diselaraskan ke dalam perilaku kerja setiap individu di dalam perusahaan. Menjadikan corporate core values sebatas pajangan indah di perusahaan, akan menjadi sumber penyebab kegagalan perusahaan.   
Kepemimpinan harus selalu tampil paling depan, untuk setiap proses internalisasi nilai-nilai inti perusahaan terhadap sumber daya manusia. Jadi, setiap nilai-nilai tersebut haruslah membantu setiap orang untuk memahami cara berperilaku dan bekerja di lapangan. Hal ini akan memberikan kepercayaan diri dan keberanian kepada karyawan, untuk berkontribusi dan melayani pekerjaannya tanpa takut akan risiko.
Bila nilai-nilai inti perusahaan masih sebatas kata-kata manis yang tidak dijalankan dengan benar, maka hal ini sama saja seperti perusahaan sedang menjalankan usahanya di atas risiko, yang siap memangsa semua kekayaan perusahaan.
Nilai-nilai inti perusahaan adalah penjaga batas wilayah. Baik batas wilayah pribadi, wilayah kerja, maupun wilayah bisnis yang sedang dijalankan. Oleh karena itu, bila setiap karyawan dan pimpinan bekerja sesuai batas wilayah masing-masing, maka setiap orang bisa lebih fokus untuk memberikan kinerja terbaik, serta dapat menghindarkan diri dari ruang risiko.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra