BELAJAR MANAJEMEN DIRI DARI BENJAMIN FRANKLIN



BELAJAR MANAJEMEN DIRI DARI BENJAMIN FRANKLIN
“Pemimpin yang unggul selalu melihat dirinya sebagai manajer yang memanajemani dirinya sendiri, sebelum dirinya itu keluar untuk memimpin orang lain.” ~ Djajendra
Para pemimpin besar tidaklah lahir begitu saja, mereka memanajemeni dirinya sendiri agar mendapatkan energi positif, lalu siap menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang luar biasa.
Pemimpin hebat adalah Ia yang mampu memberdayakan potensi dirinya untuk menghadirkan hal-hal baik buat banyak orang.
Salah satu pemimpin terbaik di dunia adalah Benjamin Franklin. Ia memiliki banyak pekerjaan, selain sebagai pencipta dan perancang berbagai hal, ia juga seorang ilmuwan, penulis, pemimpin politik, dan juga bisnis. Tidak itu saja, ia juga merupakan salah satu bapak pendiri bangsa Amerika Serikat, yang turut serta merancang deklarasi kemerdekaan dan konstitusi Amerika Serikat.
Benjamin Franklin adalah pribadi luar biasa yang menjadi sumber inspirasi di dalam dunia kepemimpinan di segala zaman. Ia lahir pada tanggal 17 Januari 1706 di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, merupakan anak dari Yosia Franklin, seorang pengusaha pembuat sabun dan lilin.
Sekarang, setiap orang dapat melihat Benjamin Franklin di mata uang dolar Amerika serikat nominal $100. Sebagai pemimpin besar yang sangat berjasa kepada bangsanya, ia layak tampil abadi dalam lembaran seratus dolar Amerika Serikat.
Bagaimana caranya Benjamin Franklin menjadi pemimpin yang sampai hari ini mampu menjadi teladan dan inspirasi untuk banyak orang?
Sejak usia muda, Benjamin Franklin sudah sangat serius belajar dan menciptakan prinsip-prinsip manajemen diri. Ia tidak saja menuliskan poin-poin tentang sikap dan perilaku yang harus dimiliki, tetapi juga berlatih dengan sangat serius untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan positif agar  menjadikan dirinya unggul di segala bidang yang ia tekuni.
Ia juga sangat terkenal dengan daftar tiga belas kebajikan, yang Ia tulis sendiri dan mempraktikkannya di sepanjang hidupnya.
Benjamin Franklin menciptakan dirinya sendiri dengan integritas pribadi yang berkualitas tinggi. Ia merupakan seorang motivator rasional, yang selalu sadar akan perubahan, dan selalu mempersiapkan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan positif dan optimis agar dapat mengatasi masalah sebelum masalah itu hadir.
Benjamin Franklin membiasakan dirinya untuk fokus dan menjadi lebih efektif terhadap hal-hal prioritas yang ia kerjakan. Ia selalu fokus untuk melatih pikiran, emosi, dan perilakunya agar sesuai dengan setiap kebajikan yang ia ciptakan.
Sejak bangun pagi, ia sudah memikirkan cara untuk memperkuat kebiasaan baru di sepanjang hari. Setiap hari ia akan melihat catatan kebajikan yang harus ia jalankan pada hari itu, dan juga melakukan evaluasi diri untuk menghitung berapa kali ia kembali ke kebiasaan lama.
Benjamin Franklin adalah seorang pembelajar berkualitas tinggi. Integritas pribadinya telah membuat ia selalu sadar untuk menjaga komitmen kepada dirinya sendiri. Ia selalu jujur untuk memperbaiki perilaku dan cara berpikirnya, ia juga sadar bahwa menuju kesempurnaan haruslah melalui perbaikan secara terus-menerus, dan setiap hari.
Benjamin Franklin sangat percaya diri untuk mengubah kebiasaan lama ke kebiasaan baru. Manajemen waktu buat dirinya bukanlah mengutak-atik jumlah waktu yang sudah pasti itu. Tetapi, ia merubah kebiasaan tidak efektif menjadi efektif, merubah kebiasaan yang menghabiskan waktu menjadi kebiasaan yang menyisakan banyak waktu luang. Benyamin Franklin menjalankan manajemen diri dengan kekuatan mengubah kebiasaan dan perilaku, ia seorang pribadi yang sangat jenius dalam menata dan mengelola dirinya.
Walau sudah lebih dari tiga ratus tahun yang lalu tentang ilmu manajemen diri dari Benjamin Franklin, sepertinya semua pemikirannya itu sampai sekarang masih terasa baru.
Sebagai pribadi yang penuh integritas atas komitmennya untuk perilaku baru, ia setiap hari fokus untuk membiasakan dirinya dengan perilaku baru yang ia inginkan.
Dalam manajemen diri, ia selalu menempatkan alat pengingat yang sifatnya visual. Di antara kebiasaan-kebiasaan positif yang ia tekuni adalah berusaha untuk menjadi pribadi yang otentik. Ia juga percaya bahwa hubungan yang saling percaya di dalam kehidupan organisasi akan menghadirkan sukses.
Selain itu, ia juga sangat rajin untuk menjaga gaya hidup positif agar mendapatkan energi maksimum. Jadi, olah raga, makan yang teratur, tidur yang cukup, dan berpikir positif merupakan rutinitas hidupnya.
Sebagai seorang pemikir positif yang rasional, ia mengatur harinya dengan memperhatikan tingkat fisik dan mental. Termasuk, memilih maksimal dua prioritas tertinggi untuk dikerjakan, dan menonaktifkan hal-hal yang tidak prioritas, serta berani mengatakan tidak.
Benjamin Franklin memiliki kebiasaan untuk setiap hari fokus hanya pada satu hal. Ia tidak percaya bahwa dalam waktu bersamaan seseorang mampu melakukan hal-hal berkualitas. Ia percaya bahwa apapun yang dilakukan haruslah fokus agar dapat menghasilkan yang terbaik.
Ia juga memiliki kebiasaan untuk mencari cara agar dapat melakukan sesuatu dengan lebih baik dan lebih cepat. Dan, selalu mempercepat proses atas hal-hal rutin yang tidak penting.
Benjamin Franklin adalah seorang ahli dibidangnya, sehingga kekuatan intuisinya mampu melihat potensi masalah di depan, sehingga ia dapat memecahkan segera dengan solusi yang tepat.
Benjamin Franklin tidak pernah takut, apalagi takluk oleh tujuan besar. Ia sangat cerdas untuk memecah tujuan besar tersebut menjadi bagian-bagian kecil, lalu hanya memikirkan satu bagian terkecil pada satu waktu. Dan, ia juga seorang profesional sejati yang selalu menyelesaikan apa yang ia mulai, serta tidak pernah menciptakan alasan untuk menyerah.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra