KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK MENGATASI TRAUMA



“Ketika jiwa terluka, maka pengalaman terluka itu bisa menjadi trauma yang menyakitkan. Ketika fisik terluka, maka pengalaman terluka itu, walau secara medis sudah sembuh, tetapi secara kejiwaan masih trauma, artinya masih belum sembuh. Ketika kemanusiaan seseorang  tertindas oleh ketidakbaikan, maka pengalaman itu bisa menjadi trauma yang dirasakan seumur hidup. Trauma adalah pengalaman masa lalu yang sampai hari ini masih hidup di dalam jiwa, pikiran, dan emosi. Trauma adalah persoalan kejiwaan yang hanya bisa diobati dengan cinta, kasih sayang, dan kepedulian. “~ Djajendra

Trauma adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan secara fisik, mental, emosional, dan kejiwaan yang membuat seseorang sulit melupakannnya, dan peristiwa yang menyakitkan itu terus-menerus dirasakan sampai hari ini.
Seorang olahragawan yang pernah mengalami cedera lutut, bila secara mental dan emosional ia tidak merasa sembuh, walau secara fisik sudah sembuh, maka dia sedang dalam kondisi trauma. Trauma adalah persoalan mental, kejiwaan dan emosional. Jadi, trauma hanya bisa diobati dengan meningkatkan keyakinan dan rasa percaya diri bahwa kejadiaan yang menyakitkan itu sudah berlalu. Dan sekarang, dirinya sudah menjadi lebih kuat lagi sehingga dirinya boleh kembali hidup tanpa rasa takut dengan peristiwa yang sudah berlalu.
Mengobati trauma memerlukan kecerdasan emosional dan kekuatan akal sehat. Emosional yang cerdas dengan akal sehat akan menjadi jalan tercepat untuk pemulihan trauma. Sebab, ketika emosional seseorang cerdas, dia akan memiliki kesadaran untuk mengelola diri sendiri agar dirinya segera terlepas dari peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Kesadaran yang diperkuat dengan motivasi untuk lebih bersyukur dan berterima kasih dengan keadaan hari ini, akan menjadi awal yang baik untuk proses pemulihan trauma.
Kesadaran diri yang baik akan dengan cerdas memetakan dirinya, dan menjadikan konsep diri sebagai prinsip untuk memulai langkah-langkah yang praktis dalam pemulihan trauma. Jadi, orang yang sadar diri pastilah dengan mudah dapat memberikan pencerahan kepada dirinya sendiri, sehingga ia dengan mudah dapat mengatasi semua trauma, dan dengan penuh percaya diri melangkah menuju masa depan tanpa dibayangi trauma.
Kesadaran diri akan merubah trauma menjadi pengalaman berharga untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan di masa depan. Jadi, selama diri sadar untuk bersikap dan berpikir positif pada semua peristiwa terburuk, juga mampu menjadi lebih ikhlas dan memaafkan kejadian yang menyakitkan, maka diri akan lebih mudah untuk melupakan peristiwa masa lalu yang menyakitkan itu.
Trauma tidak saja dihasilkan dari pengalaman pribadi seseorang dengan berbagai interaksi dan kejadian yang sifatnya masih di ruang pribadi. Tetapi, trauma juga sering sekali dihasilkan dari ruang publik. Sebagai contoh, trauma yang disebabkan oleh kehidupan sosial yang tidak cerdas sosial. Di dalam kehidupan sosial yang miskin empati, toleransi, kasih sayang, peduli, cinta, dan kemanusiaan; akan menghasilkan kekerasaan, pelecehan, diskriminasi, dan perilaku-perilaku buas yang tidak manusiawi. Di mana, semua realitas tersebut akan menjadi energi yang menciptakan trauma sehingga akan meninggalkan luka fisik, luka jiwa dan luka emosi yang sulit untuk dilupakan. Hal ini akan menjadi energi negatif yang merusak masa depan dan kedamaian hidup seseorang.
Sikap dan perilaku yang merasa paling benar dalam sebuah kelompok sosial, serta sikap dan perilaku yang menganggap kelompok lain lebih rendah dari kelompoknya, juga dapat menjadi pemicu peristiwa-peristiwa negatif yang menghasilkan trauma. Trauma juga bisa bersumber dari sikap superior atas kelompok lain. Bila sebuah kelompok merasa superior, maka kelompok superior ini pasti menganggap rendah kelompok-kelompok yang berbeda dengannya. Mindset yang menganggap kelompoknya yang paling benar dan paling berhak dari yang lainnya, berpotensi menghasilkan energi kehidupan sosial dalam bentuk diskriminasi, rasisme, kekerasan, dan perilaku-perilaku anti sosial lainnya.
Trauma sangatlah tidak menguntungkan siapapun. Sebab, trauma akan menghasilkan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang hidupnya tertekan dalam rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka tidak bisa fokus secara total untuk menjadi energi produktif dan kreatif. Bila dalam sebuah komunitas masyarakat terlalu banyak orang-orang yang memiliki trauma, maka dapat dipastikan komunitas tersebut tidak akan pernah bisa tumbuh dan berkembang menuju masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, trauma haruslah menjadi tanggung jawab bersama untuk pemulihannya. Diperlukan penguatan rasa percaya diri, keyakinan, dan kecerdasan emosional untuk melakukan pemulihan atas trauma seseorang. Dan juga, hanya dengan cinta dan kepedulian dari hati yang ikhlas dan tulus, trauma dapat dipulihkan secara total.
Setiap keluarga, sekolah, dan lingkungan kehidupan sosial haruslah menjadi pihak-pihak yang cerdas meningkatkan rasa percaya diri anak-anak untuk meyakini bahwa kehidupan dengan cinta, kasih sayang, kepedulian, toleransi, empati, dan berpikir positif terhadap semua peristiwa, akan menjadi kekuatan untuk meningkatkan daya tahan mental dan emosional dalam menghindari trauma. Bila sejak anak-anak seseorang terbiasa hidup dalam pikiran positif, toleransi, cinta, empati, dan kepedulian, maka kalau sudah besar dia akan menjadi pribadi tangguh yang tidak mudah diserang oleh trauma atas peristiwa atau pengalaman menyakitkan apapun. Sebab, mentalnya yang selalu berpikir positif akan dengan cerdas melakukan perubahan untuk perbaikan atas semua kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma.
Trauma bersumber dari semua hal-hal negatif.  Sikap, perilaku, kebiasaan, pola hidup yang negatif dan penuh emosional dapat menjadi jalan untuk menghasilkan trauma. Diperlukan kepribadian dan karakter yang unggul bersama integritas pribadi, serta kepribadian yang unggul dalam kecerdasan emosional agar dapat terhindar dari trauma. Trauma yang kronis dapat menghasilkan sakit mental, sakit emosional, dan sakit fisik yang dipicu oleh emosional negatif.
Trauma adalah sesuatu yang sangat berbahaya buat kemajuan dan pencapaian yang lebih tinggi. Masyarakat yang trauma pasti pola kehidupan sehari-harinya penuh dengan stres kronis dan tidak memiliki kesehatan emosional yang baik. Akibatnya, sebagian besar hidup dihabiskan untuk menghadapi kecemasan dan ketakutan, sehingga tidak memiliki waktu untuk menjadi lebih produktif dan kreatif.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra