KOMUNIKASI 'PERTANYAAN DAN CARA BERTANYA DALAM SEBUAH WAWANCARA'




PERTANYAAN DAN CARA BERTANYA DALAM SEBUAH WAWANCARA
“Pewawancara yang melengkapi dirinya dengan etika, tatakrama, emosi dan mental yang cerdas; pasti cerdas berimajinasi bersama pertanyaan dan cara bertanya, untuk mendapatkan jawaban dan informasi, termasuk untuk mendapatkan simpati dari publik dan narasumber.”~ Djajendra  
Pertanyaan memberi kuasa kepada pewawancara. Saat seorang pewawancara ingin mendapatkan informasi, maka dia dapat memulai sebuah percakapan yang sifatnya menggali informasi dengan teknik dan cara bertanya yang cerdas sosial.  Pewawancara wajib menjunjung tinggi etika dan tatakrama dalam percakapan. Ketika pewawancara mengabaikan etika dan tatakrama dalam bertanya, narasumber berhak untuk tidak menjawab. Apalagi bila pertanyaan itu berpotensi melukai perasaan orang lain. Sebuah pertanyaan bertujuan untuk mendapatkan jawaban yang jujur dan sesuai dengan realitas yang ada. Jadi, sebuah pertanyaan tidaklah boleh ditanyakan dengan tujuan untuk menciptakan opini negatif tentang orang lain, ataupun dengan tujuan menjebak narasumber dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif yang dapat melukai kehidupan sosial.
Pewawancara berhak bertanya dari berbagai sudut pandang dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang utuh dari sebuah persoalan. Untuk itu, pewawancara haruslah memiliki pengetahuan yang sangat mendalam, baik secara teori maupun secara fakta, termasuk memiliki kepribadian yang dewasa cara berpikirnya dalam keunggulan kecerdasan emosi dan mental. Semua pertanyaan dari pewawancara haruslah terkonsepkan secara berkualitas. Karena narasumber membiarkan dirinya ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan dari persepsi dan logika berpikir pewawancara, maka diperlukan kontrol diri yang kuat dari pewawancara untuk menjaga kehormatan dan harga diri narasumber.
Kebebasan untuk bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan sesuai kehendak dari kepentingan pewawancara haruslah memiliki empati. Bila empati hilang, maka kontrol diri pewawancara pasti kelihatan tidak sopan dan kurang etis. Seorang pewawancara wajib bertanggung jawab atas percakapan yang terjadi, karena sebagai pewawancara telah diberikan kuasa oleh narasumber untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bermanfaat bagi stakeholders. Bila seorang pewawancara disusupi dengan kepentingan kelompok atau pribadi, maka biasanya pewawancara akan kehilangan empati dan tanggung jawab terhadap percakapan tersebut.  
Pewawancara berhak bertanya dengan teknik interogasi, tapi interogasinya haruslah dalam gaya bertanya yang persuasif. Pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada interogasi bermaksud untuk mendapatkan informasi yang sifatnya sangat detail. Dalam teknik interogasi yang baik, narasumber harus dibuat nyaman dan sangat percaya diri. Hal ini merupakan tugas dari pewawancara untuk menciptakan kondisi dan situasi yang persuasif dan penuh persahabatan. Setelah kondisi tanya jawab yang persuasif terbentuk, pewawancara dengan kecerdasan bertanya dapat menggiring narasumber ke hal-hal yang sangat detail, tanpa menciptakan kesan untuk memojokkan narasumber dengan pertanyaan dan cara bertanya yang tidak sesuai dengan realitas. Pewawancara harus mampu menguasai diri dan memiliki pengetahuan yang lebih, agar dapat mengeksplorasi narasumber dari gambaran besar untuk mendapatkan hal-hal yang sangat detail.
Pertanyaan yang berkualitas dihasilkan dari kecerdasan pewawancara untuk menguasai pengetahuan teori dan fakta dari topik pembahasan. Dan juga kecerdasan pewawancara untuk melengkapi dirinya dengan etika dan tatakrama, yang membuat narasumber tenang dan percaya diri. Bila narasumber tenang dan percaya diri, maka semua pertanyaan berkualitas dari pewawancara akan mendapatkan jawaban dan informasi yang berkualitas dari narasumber. Semakin nyaman mood narasumber dalam wawancara tersebut, maka semakin mudah untuk pewawancara melakukan eksplorasi informasi secara mendalam dan berkualitas. Semua ini membutuhkan kualitas dan wawasan dengan pengetahuan yang total dari kepribadian pewawancara. Bila kualitas pewawancara kalah dari narasumber, maka pewawancara hanya akan memiliki kekuasaan untuk bertanya, tapi kekurangan kemampuan untuk mendapatkan jawaban dan informasi berharga dari narasumber.
Pertanyaan yang berkualitas selalu bertujuan untuk mencari jawaban yang jujur, bukan untuk membingungkan atau memojokkan narasumber. Kualitas seorang pewawancara tidak saja harus cerdas secara kompetensi; tapi juga harus cerdas secara moral, etika, emosi, dan mental.  Pewawancara yang cerdas pasti akan melengkapi dirinya dengan kecerdasan emosi, moral, etika, dan tatakrama. Sebab, dia sadar bahwa semua pertanyaannya pasti akan ditonton atau dilihat oleh banyak orang, sehingga dia tidak mungkin membiarkan dirinya terlihat tidak cerdas dalam realitas kehidupan sosial. Untuk itu, seorang pewawancara yang cerdas tidak akan membiarkan dirinya dibeli oleh kepentingan apapun. Dia dengan penuh komitmen dan disiplin akan bertanya dengan pertanyaan yang sederhana dalam bahasa yang objektif, untuk mendapatkan jawaban yang objektif.  Pewawancara yang cerdas juga akan menampilkan gairah dan antusiasme bertanya dengan cara bertanya, yang terkendali dalam kecerdasan emosi dan logika, yang mampu mengundang empati sosial terhadapnya. Kecerdasan dia dalam bertanya akan terfokuskan untuk mendapatkan respon positif dari publik. Dan dia juga dengan cerdas memahami kredibilitas dan reputasi narasumber di persepsi publik. Bila publik sedang mengidolakan narasumber, maka pewawancara pasti cerdas memahami hal ini, untuk tidak menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak disukai publik.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com