MUNGKINKAH PENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI DENGAN MENCERDASKAN EMOSI PIMPINAN DAN KARYAWAN?




MUNGKINKAH PENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI DENGAN MENCERDASKAN EMOSI PIMPINAN DAN KARYAWAN?
“Dalam keramaian beragam emosi kehidupan, Anda perlu mencerdaskan emosi Anda, agar hidup Anda sesuai dengan harapan Anda.” ~ Djajendra
Organisasi memiliki banyak sumber daya, dan satu-satunya sumber daya yang membutuhkan emosi yang cerdas adalah manusia. Manusia sebagai kekuatan yang menentukan arah dan kualitas dari keberadaan organisasi. Bila setiap orang di dalam organisasi memiliki emosi yang cerdas; emosi yang mampu menjaga diri masing-masing, untuk menjalankan setiap proses dan eksekusi target; dengan penuh tanggung jawab berdasarkan etika dan integritas pribadi, maka secara alami, organisasi akan memiliki kualitas manajemen yang unggul, untuk melayani setiap stakeholder dengan keunggulan.
Cerdas emosi di tempat kerja berarti setiap orang mampu menjadi sangat sadar untuk mengelola diri dan pekerjaan, dan memfokuskan dirinya untuk tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Tugas dan tanggung jawab tidak terbatas dari pekerjaan yang dikerjakan, tapi juga terhadap hubungan baik dengan setiap stakeholder dari kualitas moral diri, yang bersumber dari hati nurani yang paling tulus untuk melayani.
Bagaimana seseorang bisa mencerdaskan emosinya? Apakah proses mencerdaskan emosi sangat mudah, dan tidak butuh waktu lama? Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut sering harus saya jawab, karena sangat banyak orang-orang tertarik dengan proses instan, agar emosinya bisa langsung cerdas dan membawa kedamaian buat hidupnya.  Saya sangat bahagia bila setiap orang menjadi cerdas emosi dan mampu dalam hitungan detik merubah hidupnya ke arah yang lebih bahagia. Sayangnya, proses pencerdasan emosi harus dijalankan seumur hidup dalam kesadaran diri untuk mengelola setiap aspek yang bersumber dari dalam diri sendiri, termasuk yang berasal dari pengaruh dan realitas dari luar diri.
Kemampuan untuk mengeluarkan semua ide dari pikiran dan diproses ke dalam hati, untuk diterjemahkan dengan logika emosi cerdas, akan membuat ide tersebut memiliki energi yang kuat untuk diwujudkan dalam realitas seperti yang diharapkan. Kecerdasan emosi membutuhkan kualitas diri yang menenangkan diri dalam fokus tanpa terpengaruh oleh ramainya emosi dari luar diri. Kemampuan diri untuk memberikan energi netral ke dalam emosi dan pikiran, akan membuat hasil akhir dari keputusan terhadap ide menjadi asli dan baru.
Semakin cerdas emosi dari pimpinan dan karyawan, maka semakin tinggi pencapaian kinerja organisasi dalam jangka waktu yang berkelanjutan secara terus-menerus. Artinya, organisasi dengan kualitas sumber daya manusia yang cerdas emosi, akan menjadi kekuatan yang selalu unggul dan menang dalam kompetisi bisnis atau pelayanan kepada stakeholders.  Karena, emosi yang cerdas mampu bersikap lebih tenang terhadap semua risiko yang terlihat dan yang tak terlihat, lalu mampu menemukan akal sehat dan pengetahuan yang tepat untuk memagari risiko-risiko yang dianggap berbahaya buat pencapaian kinerja organisasi.
Tantangannya, sangatlah tidak mudah untuk membuat orang-orang hidup dalam kesadaran dan manajemen diri yang terkendali dalam pikiran positif. Dalam realitas organisasi atau perusahaan, sangat banyak pimpinan yang memiliki niat untuk kepentingan ambisi pribadi, demikian juga dengan karyawan yang sebagian besar kehidupan sehari-harinya harus dilalui dengan pengaruh yang sangat besar dari kekuatan energi negatif. Ketika seseorang sangat antusias menonton atau mendengarkan berita-berita yang didominasi oleh emosi dan pikiran negatif, maka orang tersebut berpotensi tertular emosi negatif tersebut. Karena setiap hari menonton, membaca, dan mendengarkan hal-hal negatif dengan sepenuh hati, maka kecerdasan emosi yang dimiliki tidak kuat untuk membuat dirinya lebih damai dan bahagia dalam hidup. Bila diri dalam kondisi tidak damai dan tidak bahagia, maka tidaklah mungkin mengembangkan motivasi diri untuk tujuan pengelolaan sumber daya organisasi dari kecerdasan pikiran dan emosi baik.
Saat mental seseorang cerdas dalam ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, menguraikan, memaparkan, mengevaluasi, mengendalikan, dan memperbaruhi; maka orang tersebut telah memiliki anugerah yang hebat untuk membuat dirinya bermanfaat buat banyak orang, asalkan orang tersebut mau dengan kesadaran diri yang tinggi untuk mengelola diri dan potensinya dengan emosi cerdas yang baik. Tapi, bila emosi cerdasnya tidak baik, maka orang tersebut akan menjadi orang yang sangat pintar, dan berbahaya buat kehidupan orang lain.
Saya selalu memahami bahwa setiap orang sangat pintar dan sangat cerdas. Dan, saya juga memahami bahwa dalam realitas hidup selalu ada orang baik yang memerankan dirinya untuk berkontribusi dengan hal-hal positif sebagai penghasil energi positif buat kehidupan. Dan juga, ada orang-orang tidak baik, yang selalu mengembangkan kecerdasan pikiran dan emosinya untuk keuntungan dirinya sendiri. Artinya, baik dan tidak baik akan selalu ada dalam setiap upaya untuk membuat orang-orang menjadi lebih baik dengan kecerdasan emosi. Sebab, sangat banyak orang yang pikiran dan emosinya telah terperangkap dalam keyakinan dan kebiasaan hidup, yang membuat hati nuraninya mengeluarkan pesan moral yang berbeda antara satu sama lain. Hidup adalah milik baik dan tidak baik. Dalam pandangan saya, setiap orang mampu mencerdaskan emosinya, tapi kecerdasan emosional yang dimiliki belum tentu menghasilkan hasil akhir seperti yang ada dalam semangat ilmu pengetahuan kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional di tempat kerja dapat dijalankan bila organisasi sudah membiasakan atau membudayakan perilaku etis dari integritas pribadi masing-masing. Termasuk, sudah menjalankan tata kelola organisasi dengan manajemen kualitas yang unggul dan konsisten. Bila setiap orang sudah menjalankan kode etik kerja, panduan etika bisnis, tata kelola yang rendah risiko, manajemen kualitas unggul, mematuhi semua kebijakan dan aturan pemerintah, serta menjadi warga organisasi yang patuh hukum dan patuh etika; maka organisasi, karyawan, dan pimpinan akan menjadi lahan yang sangat subur untuk pengembangan kecerdasan emosional di dalam perusahaan.
Pimpinan dan karyawan yang cerdas emosi pasti akan bekerja untuk mengelola semua sumber daya organisasi, seperti: uang, aset, material, teknologi, pelanggan, pemasok, dan sumber daya berharga yang lainnya dengan fokus, yang terkonsentrasi pada pencapaian kinerja dan prestasi terbaik. Dan mereka juga akan terlatih untuk terbiasa memupuk kehadiran dirinya di setiap proses dan interaksi; menyalurkan empati untuk memotivasi orang lain; serta memacu dirinya dengan keberanian yang terkalkulasi dalam risiko, untuk membuat tindakan dan eksekusi yang sesuai dengan sasaran pada target.
Pikiran dan perasaan selalu akan berkuasa atas diri Anda. Kecerdasan emosi artinya Anda mampu memberikan respons positif kepada perasaan, lalu menggunakan kecerdasan pikiran untuk menemukan akal sehat untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan perasaan sukacita. Apabila Anda melakukan apa yang Anda suka, Anda akan bertindak atas naluri yang dibimbing oleh kekuatan moral dalam kecerdasan emosi Anda, dan secara otomatis Anda termotivasi untuk meningkatkan kinerja dari pekerjaan yang Anda kerjakan, karena Anda suka melakukannya, tanpa paksaan oleh hal apapun.
Judul tulisan ini diawali dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah Peningkatan Kinerja Organisasi Dengan Mencerdaskan Emosi Pimpinan Dan Karyawan?” Jawabannya adalah mungkin, tapi dengan syarat bahwa organisasi sudah membudayakan dan membiasakan perilaku etis dari integritas pribadi masing-masing pimpinan dan karyawan secara konsisten. Bila etika dan integritas pribadi masih diragukan, maka  perasaan kekurangan akan menjebak diri, dan berpotensi menghilangkan kepercayaan diri untuk mengembangkan kesadaran diri terhadap pencerdasan emosi ke dalam diri. Keraguan dan ketidakpercayaan pada realitas akan membentuk kepribadian diri untuk mengabaikan semangat kecerdasan emosional di tempat kerja.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra