“Komitmen Dan Pencitraan Kepemimpinan Untuk Melayani Kepentingan Publik, Haruslah Dibuktikan Dengan Kode Etik Dan Implementasi Budaya Integritas. Pemimpin Harus Menjadi Energi Yang Mendisiplinkan Profesionalisme Atas Timnya, Lalu Meminta Setiap Anggotanya Untuk Menerima Dan Menjalankan Kode Etik Dengan Integritas Pribadi, Serta Membuat Pelayanan Yang Menguntungkan Kehidupan Publik, Tidak Membahayakan, Apalagi Merugikan Publik.” ~ Djajendra




KEPEMIMPINAN DI MASA DEPAN DALAM TANTANGAN  PENCITRAAN
“Dunia Demokrasi Membutuhkan Kepemimpinan Autentik, Yang Cerdas Mengidentifikasi Dan Mengklarifikasi Nilai-Nilai Pribadi, Untuk Membangun Masyarakat Demokrasi Yang Kuat Dan Unggul.” ~ Djajendra
Kemajuan teknologi multimedia telah membuat siapa saja dapat melakukan pencitraan atas dirinya atau kelompoknya untuk meraih simpati, empati, pengaruh, dan kekuasaan. Sangat banyak cara dan strategi kreatif yang dapat digunakan untuk melakukan pencitraan terhadap pribadi seseorang. Bermodalkan uang dan sedikit dukungan, seseorang bisa menciptakan dirinya menjadi pemimpin seperti yang didambakan oleh publik. Tim survei dan tim sukses adalah senjata strategis untuk mengekspresikan sosok hasil pencitraan kepada publik.
Pemimpin sejati bukanlah sebuah produk yang dihasilkan dari proses kreatif atau pencitraan. Dalam dunia animasi, boleh saja menciptakan pencitraan atas diri seorang pemimpin, yang mungkin nantinya hanya sebagai harapan dan impian. Dalam dunia nyata, setiap orang harus memiliki hati dan empati terhadap harapan dan kebutuhan masyarakat. Jadi, walaupun cerdas menciptakan citra pemimpin sesuai selera masyarakat, tapi jiwa pemimpin itu haruslah dilengkapi dengan nilai-nilai autentik, agar semua pencitraan yang disampaikan kepada publik, nantinya dapat dirasakan manfaatnya oleh publik.
Setiap proses pencitraan harus memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Apalagi, dalam masyarakat demokrasi modern dengan keunggulan teknologi multimedia, yang telah membuat pengetahuan dan arus informasi membanjiri setiap masyarakat di mana pun. Bermodalkan sebuah laptop dengan jaringan internet, maka setiap individu dapat mengakses informasi apa pun, dan dapat belajar pengetahuan apa pun dari seluruh penjuru dunia. Dan mereka semua inilah yang nantinya akan menjadi awal dari masyarakat demokrasi modern, serta akan memiliki kecerdasan wawasan global yang sangat luas.
Kecerdasan masyarakat demokrasi modern haruslah dijawab dengan kepemimpinan yang tegas, kuat, dan memiliki autentik integritas kepemimpinan dari diri sendiri. Dengan semakin cerdasnya masyarakat demokrasi modern, maka gaya kepemimpinan top down sudah tidak mungkin lagi bisa berhasil. Para pemimpin di masa depan harus sadar bahwa kekuatan uang dan pencitraan saja tidaklah cukup. Diperlukan nilai-nilai inti pribadi yang kuat dan unggul, untuk dapat melayani masyarakat demokrasi modern. Pemimpin harus terlibat dengan pekerjaan kepemimpinannya, dan berkomitmen total untuk apa yang dia lakukan sesuai janji.
Masyarakat demokrasi modern adalah masyarakat yang berperilaku terbuka, kreatif, bebas, menjunjung etika umum, serta bersudutpandang antara idealisme dan pragmatisme. Mereka adalah hasil evolusi dari masyarakat perkotaan, yang gaya hidupnya sangat individualis, dengan pola hidup sehari-hari yang terfokus pada pekerjaan dan tanggung jawab. Di masa depan masyarakat perkotaan dengan pemahaman demokrasi modern akan menjadi mayoritas di negara mana pun.
Dalam masyarakat yang cerdas dan tercerahkan oleh informasi dan pengetahuan, pemimpin akan sangat sulit berharap loyalitas dari masyarakat, apalagi bila dirinya menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat, untuk menginspirasi dan membangun masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pemimpin tidak hanya mengandalkan pencitraan diri, tapi juga mengembangkan autentik nilai-nilai kepemimpinan dari dalam diri, dan kemudian menjadikannya sebagai integritas pribadi dalam melayani kepemimpinan dan masyarakat.
Komitmen dan pencitraan kepemimpinan untuk melayani kepentingan publik, haruslah dibuktikan dengan kode etik dan implementasi budaya integritas. Pemimpin harus menjadi energi yang mendisiplinkan profesionalisme atas timnya, lalu meminta setiap anggotanya untuk menerima dan menjalankan kode etik dengan integritas pribadi, serta membuat pelayanan yang menguntungkan kehidupan publik, tidak membahayakan, apalagi merugikan publik.
Bila pemimpin tidak memiliki nilai-nilai autentik dalam jati diri dan semangat kepemimpinannya, maka dia pasti tidak mampu berbuat banyak untuk publik. Dan selalu akan terjebak dalam persepsi dan keyakinan dirinya sendiri akan kebenaran pencitraannya. Dampaknya, publik akan merasa bosan dan dibohongi oleh kepribadiannya. Dia juga akan selalu berpersepsi bahwa apa yang dia lakukan sudah benar dan sesuai janjinya. Sebab, dia memimpin dari kotak kecil pencitraan yang diciptakan oleh orang-orang terdekatnya melalui tim survei dan tim sukses. Jadi, setiap hari, saat ada publik yang menggunakan akal sehat dan mencoba mempertanyakan kebijakan pemimpin, maka dia akan segera dibantu habis-habisan oleh orang-orang terdekatnya, yang biasanya berperan sebagai tim penyelamat dan tim peningkat pencitraan.
Kepemimpinan di masa depan tidaklah mungkin lagi terlindungi dalam kekuatan pencitraan. Sebab, kecerdasan masyarakat demokrasi modern akan membuat pemimpin harus memimpin secara autentik sesuai janji dan komitmen. Bila pemimpin membohongi publik dengan pencitraan, dan tidak berniat melayani kepemimpinannya dengan nilai-nilai autentik, maka dia akan dengan mudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat, dan selanjutnya dia sulit untuk mendapatkan kehormatan dan kepercayaan dari publik.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra