PEGAWAI JUJUR



PEGAWAI JUJUR

Seorang pegawai senior di sebuah kantor berwenang untuk menyetujui pengeluaran anggaran belanja.

Pagi ini dia kedatangan tamu sesuai dengan janji yang dibuat satu minggu yang lalu.

Tamu tersebut sangat sopan, tutur katanya sangat membujuk, dia meminta pegawai senior tersebut, untuk menyetujui proposalnya. Dia juga mengiming-iming pegawai senior tersebut dengan hal-hal yang menggoda orang jujur untuk menjadi tidak jujur.

Pegawai senior itu hanya tersenyum dan mengabaikannya, tapi tamu itu terus merayu dengan kata-kata yang sangat mempengaruhi. Ketika pegawai senior itu mulai memperlihatkan sikap tidak senang kepada tamu tersebut, tamu itu mulai menyebut beberapa nama orang-orang penting yang dapat membantu menaikan karir si pegawai senior tersebut.

Pegawai senior itu menjadi kesal dan mulai marah-marah kepada tamu tersebut. Dia berkata kepada tamunya itu, “Saya hanya akan mengikuti aturan dan peraturan, dan bila tawaran Anda sesuai dengan rencana kami, maka kami pasti akan memberikan pekerjaan ini kepada Anda. Jadi, jangan merayu saya dengan hal-hal yang tidak saya suka.”

“Saya ingin membalas jasa baik Anda, dan saya merasa Anda luar biasa. Oleh karena itu, saya ingin membicarakan kepada orang-orang yang saya sebut tadi, agar jabatan dan pangkat Anda segera dinaikan ke level yang lebih tinggi,” jawab tamu tersebut.

“Naik jabatan dan pangkat ke level yang lebih tinggi? Apa gunanya jabatan dan pangkat, bila saya tidak beretika dan miskin integritas? Di sini, di kantor kami, “kata pegawai senior itu, kami memiliki sistem, prosedur, aturan, etika, budaya, kehormatan, harga diri, komitmen, dan sumpah untuk tidak merugikan stakeholder yang manapun.”

“Tidak, saya tidak ingin Anda salah paham,” kata si tamu, “Saya tidak bermaksud menyogok Anda. Anda harus berhenti berpersepsi dan berpikir bahwa saya mau menyogok Anda untuk mendapatkan proyek ini. Tidakkah Anda tahu menyogok itu adalah korupsi, dan korupsi sangat berbahaya, karena menciptakan ekonomi biaya tinggi, dan akhirnya membuat kita semua tidak memiliki daya saing bisnis dan ekonomi yang kuat? Dan dalam hal apapun saya tidak ingin menyogok Anda, saya hanya ingin balas budi atas sikap baik Anda kepada saya. Saya pasti tidak enak hati kalau tidak bisa balas budi kepada Anda.”

“Balas budi kepada saya?” Pegawai senior itu tersenyum dan menunjukkan fakta integritas yang dia bingkai dengan cantik, lalu meletakkannya di atas meja kerja, mengatakan kepada tamu, “Ini, lihat apa isi fakta integritas yang saya tanda tangani. Saya bertugas, bekerja, bertanggung jawab, berkarya, mengabdi, dan berkontribusi atas dasar sumpah saya untuk patuh pada fakta integritas ini.”

Tamu itu diam dan dengan sangat santun berkata, “Apa saya ini sudah bodoh? Saya  sangat tahu bahwa fakta integritas yang Anda buat itu adalah komitmen dan sumpah Anda untuk bersikap etis dalam integritas pribadi terjujur Anda. Saya hanya menawarkan masa depan untuk Anda, dan tidak bermaksud untuk membuat Anda menjadi koruptor yang hina.”

Pegawai senior itu tersenyum lagi. Dia berkata kepada tamunya, “Saya berterima kasih, karena Anda tidak ingin menjebak saya menjadi koruptor hina. Saya berjanji bila apa yang Anda tawarkan kepada kami itu terbaik menurut hasil evaluasi kami, maka kami pasti meminta Anda untuk mengerjakannya. Dan, Anda tidak perlu merasa berutang budi kepada saya atau kami di sini, karena kamilah yang harus berterima kasih kepada Anda yang mampu membantu kami menjalankan program kerja kami dengan sempurna, dan tentu saja, tidak setengah-setengah, tapi total dan betul-betul berkualitas tinggi.”

Pegawai senior itu melihat tamunya mulai bingung. Sepertinya,  tamu itu tidak begitu senang, dan wajahnya kelihatan marah yang ditahan. Lalu, tamu itu pamit dan pulang bersama keraguan.

Djajendra

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra