GCG: TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG ETIS DAN BERINTEGRITAS TERGANTUNG KEPADA INTEGRITAS PRIBADI DAN INTEGRITAS KOLEKTIF PARA DIREKSI




GCG: TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG ETIS DAN BERINTEGRITAS TERGANTUNG KEPADA INTEGRITAS PRIBADI DAN INTEGRITAS KOLEKTIF PARA DIREKSI
“Bila Sudah Menggadaikan Integritas Demi Sebuah Jabatan Dan Penghasilan, Maka Fakta Integritas Yang Ditandatangani Hanya Akan Menjadi Sebuah Fakta Untuk Menjalankan Tata Kelola Perusahaan Yang Tidak Etis.” ~ Djajendra
Video pelatihan djajendra: http://www.youtube.com/user/MrDjajendra
Direksi dihasilkan dari rapat umum pemegang saham. Dimana, dewan direksi dibentuk untuk mewakili para pemegang saham dalam menjalankan operasional perusahaan sesuai tata kelola perusahaan yang sesuai standar yang ditetapkan. Para direksi yang terpilih terikat dengan undang-undang perseroan, sehingga setiap tindakan dan perilaku mereka dalam menjalankan bisnis dan korporasi, haruslah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Sebagai wali pemegang saham, direksi harus dapat dipercaya, harus bertindak demi kepentingan terbaik pemegang saham dan semua stakeholder lainnya. Direksi harus memperlihatkan perilaku dan keputusan yang meyakinkan para pemegang saham, agar direksi dianggap berkompetensi dan berintegritas untuk menjalankan tata kelola perusahaan yang baik.
Contoh tata kelola perusahaan yang baik meliputi integritas pribadi dari para direksi secara kolektif untuk bersikap dan bertindak jujur dalam ​​pelaporan data ekonomi, sumber daya dan keuangan perusahaan. Tata kelola perusahaan yang baik juga harus dicerminkan dari perilaku budaya korporasi sehari-hari. Di mana, setiap orang di dalam perusahaan harus bekerja dengan bergantung pada nilai-nilai budaya perusahaan.
Tanggung jawab utama dalam menjalankan tata kelola perusahaan yang penuh integritas, terletak pada kompetensi dewan direksi secara individu dan kolektif. Setiap keputusan manajemen merupakan tanggung jawab para direksi dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil pemegang saham. Para direksi harus cermat dalam prinsip kehati-hatian untuk melaksanakan setiap kebijakan atau keputusan strategis perusahaan. Lalu, berani bertanggung jawab untuk hasil akhirnya, dan selalu melekatkan kontrol pada setiap tindakan untuk bisa mengelola dan mengurangi risiko yang tidak diinginkan.
Setiap kali pemegang saham meminta pertanggungjawaban direksi atas kinerja dan perilaku etis, maka direksi harus mampu bertanggung jawab secara kolektif. Tidak boleh ada alasan atas ketidakmampuan dalam menjalankan tata kelola bisnis perusahaan yang etis. Tanggung jawab harus dihasilkan dari integritas pribadi dan integritas kolektif dewan direksi.
Akuntabilitas para direksi harus diperlihatkan untuk melindungi hak dan kepentingan para pemegang saham. Artinya, direksi yang dipilih oleh pemegang saham melalui RUPS haruslah memberikan akuntabilitasnya dalam membuat keputusan strategis perusahaan untuk memastikan kinerja dan keberhasilan perusahaan secara berkelanjutan.
Dewan direksi harus cerdas mempekerjakan para eksekutif senior untuk mengelola perusahaan sesuai dengan strategi, rencana, kebijakan, dan prosedur yang ditetapkan. Hal yang paling penting adalah mengimplementasikan budaya integritas di lingkungan perusahaan, lalu memotivasi dan mempengaruhi para eksekutif senior dan semua karyawan lainnya, untuk bekerja dengan integritas pribadi dalam menjalankan nilai-nilai budaya perusahaan.
Dewan direksi harus membangun kebiasaan yang membudaya untuk kepatuhan perusahaan dan setiap individu di dalam perusahaan terhadap hukum, aturan, dan peraturan. Termasuk, mengawasi keberlangsungan perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang pemegang saham dan melindungi kepentingan stakeholder lainnya.
Tata kelola perusahaan yang baik membutuhkan komunikasi tepat waktu dan akurat dari sejumlah aspek operasi bisnis perusahaan. Hal-hal yang harus dikomunikasikan secara tepat waktu dan akurat mencakup pencapaian kinerja keuangan perusahaan, seperti penjualan, keuntungan, dan sumber daya ekonomi yang relevan. Para direksi harus total bersama integritas pribadi masing-masing, lalu mampu memberikan gaya kepemimpinan yang bersih dan terpercaya, untuk menciptakan nilai tambah pemegang saham yang maksimal secara berkelanjutan.
Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra