"Ketika Budaya Lokal Menghargai Gaya Kepemimpinan Top-Down, Maka Sesuaikan Perilaku Kerja Yang Dapat Memberikan Arahan Yang Jelas. Jangan Lagi Berteriak Pada Karyawan Untuk Menjalankan Tugas Mereka Tanpa Arahan Yang Jelas." ~ Djajendra

MENGHORMATI NORMA-NORMA BUDAYA LOKAL

"Ketika Budaya Lokal Menghargai Gaya Kepemimpinan Top-Down, Maka Sesuaikan Perilaku Kerja Yang Dapat Memberikan Arahan Yang Jelas. Jangan Lagi Berteriak Pada Karyawan Untuk Menjalankan Tugas Mereka Tanpa Arahan Yang Jelas." ~ Djajendra

Ketika seseorang memutuskan bekerja secara global, maka dia harus menghormati dan memahami norma-norma budaya di tempat dia bekerja. Globalisasi telah menjadi alasan untuk semakin banyak pekerja dari mancanegara bekerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Globalisai di dunia pekerjaan harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi pekerja lokal, tanpa merusak norma-norma dan nilai-nilai kehidupan pekerja lokal. Karena, bila norma dan nilai pekerja lokal terinjak atau direndahkan, maka konflik secara terus-menerus akan merusak hubungan antara pekerja global dan pekerja lokal.

Walaupun perusahaan sudah beroperasional dengan standar manajemen internasional, tapi bekerja di sebuah budaya asing haruslah tidak hanya mengandalkan standar operasional dan manajemen yang dianggap sudah berstandar global. Seorang pekerja global harus memodifikasi perilaku agar sesuai dengan norma-norma budaya lokal. Dimanapun tanah yang kita injak, kita harus dapat menghormati dan menyesuaikan perilaku terhadap kearifan dan norma-norma kehidupan yang berlaku secara lokal.

Perilaku etis terhadap norma-norma budaya lokal akan menjadi kekuatan yang membuat pekerja global dan pekerja lokal, dapat bersatupadu untuk berprestasi menghasilkan kinerja terbaik. Para pekerja global harus selalu dapat menunjukkan nilai-nilai dan etika dalam gaya interaksi dan tindakan yang mengharmoniskan kehidupan perilaku kerja lokal. Kemampuan untuk bekerja dan berkontribusi dengan memperhatikan etika dan nilai-nilai kehidupan lokal yang dominan, dapat menjadi jembatan untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Bila seorang pekerja global gagal mengidentifikasi nilai-nilai perilaku kerja lokal, maka ketidakpercayaan dapat membuat dirinya sulit untuk berbagi nilai-nilai kerja terbaik, dalam upaya untuk menghasilkan kinerja terbaik. Pekerja global terbaik pasti dapat menunjukkan perilaku etis yang kuat, untuk mempengaruhi tindakan orang lain melalui tata kelola organisasi yang berkualitas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com