"Kenapa kau tidak mau mendengarku, tapi terang-terangan melawanku?"

KEPRIBADIAN YANG RESISTEN

"Kenapa kau tidak mau mendengarku, tapi terang-terangan melawanku?"

"Aku bukan melawanmu atau tidak mendengarmu, tapi aku hanya mempertahankan suara hatiku."

"Bukan mempertahankan suara hati, tapi kau mempertahankan egoismemu dengan ngotot."

"Semua kata-katamu aku terima sebagai saran dan nasehat, tapi aku punya hak untuk menolak dan tetap mempertahankan suara hatiku."

"Kau sangat resisten, dan lebih mencintai suara hatimu daripada akal sehat."

"Semua saran dan nasehatmu membuat suara hatiku ketakutan, merasa ada ketidakpastian, merasa ragu. Aku tahu, saran dan nasehatmu sangat bagus, tapi suara hatiku ketakutan untuk menerimanya."

"Kau sangat resisten untuk mengubah arah hidupmu, kau sudah terperangkap dalam suara hatimu, keluarlah dari suara hatimu, dan berjalan-jalanlah bersama nalar dan logikamu."

"Aku tidak berani jauh dari suara hatiku, karena semua jawaban hidupku hanya bisa aku temukan dalam suara hatiku."

"Aku menghormati suara hatimu bersama nilai-nilai dirimu yang ada di dalam suara hatimu. Tapi, perubahan selalu akan memaksamu untuk membuat keputusan yang lebih bernalar, tindakan yang lebih berani, dan perilaku yang memahami realitas."

"Aku hidup dalam integritas suara hatiku yang merasa nyaman berlabuh di dermaga keyakinanku, dan aku tidak akan pernah membiarkan ada pertempuran yang harus diperangi oleh suara hatiku."

"Kau harus pahami bahwa senjata yang paling efektif dalam hidup bukanlah integritas, tapi cintamu kepada keberanianmu untuk melakukan perubahan terhadap dirimu."

"Penegasan suara hatiku sudah sangat jelas, dan melalui rasa takut, suara hatiku telah menyampaikan pesan untuk tidak menerima nasehat dan saranmu."

"Sayang sekali hidupmu, kau telah membiarkan dirimu diperbudak oleh suara hatimu. Walaupun orang-orang bijak selalu berkata bahwa suara hati adalah yang paling benar, tapi seharusnya kau tidak ngotot hanya untuk mendengar suara hatimu. Lihatlah sekelilingmu dan berkacalah sering-sering di depan pengetahuan, untuk bisa melihat dimana dirimu sekarang, dan apa yang harus kau lakukan sekarang, agar kau dapat hidup bersama masa depanmu."

DJAJENDRA