"Bila Kualitas Empati Stakeholder Turun Terhadap Keberlanjutan Perusahaan Sebagai Modal Bisnis Dan Modal Ekonomi, Maka Secara Perlahan-Lahan Kemiskinan Empati Tersebut Akan Menghancurkan Kekuatan Sumber Daya Perusahaan." - Djajendra

STAKEHOLDER HARUS BEREMPATI KEPADA PERUSAHAAN

"Bila Kualitas Empati Stakeholder Turun Terhadap Keberlanjutan Perusahaan Sebagai Modal Bisnis Dan Modal Ekonomi, Maka Secara Perlahan-Lahan Kemiskinan Empati Tersebut Akan Menghancurkan Kekuatan Sumber Daya Perusahaan." - Djajendra

Di mana ada gula disana semut pasti suka mencari makan. Demikian juga, dimana ada sumber daya bisnis, disana stakeholder pasti suka berkumpul untuk mencari kehidupan.

Kebanyakan stakeholder terlibat dengan sebuah perusahaan karena keinginan untuk berbagi sumber daya bisnis. Nilai tambah dari semua proses bisnis biasanya dianggap sebagai modal yang dapat menciptakan penghasilan buat semua pihak yang terlibat.

Perusahaan melalui keunggulan kepemimpinan dan tim manajemennya harus memberikan reputasi dan kredibilitas, agar dapat memperoleh sumber daya dari para stakeholder untuk memperkuat eksistensi perusahaan dalam kompetisi bisnis.

Dalam realitas, setiap stakeholder atau pemangku kepentingan selalu memiliki kepentingannya masing-masing, dan masing-masing stakeholder pasti akan lebih memperjuangkan keuntungan dan kepentingannya sendiri, daripada menjaga dan menyelamatkan perusahaan sebagai sumber daya bisnis, yang memungkinkan para stakeholder untuk mendapatkan nilai tambah bisnis atau pun nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.

Dari pengalaman saya sebagai konsultan, saya menemukan bahwa para stakeholder lebih suka menyederhanakan tantangan perusahaan dengan melokalisasikan persoalan perusahaan sebatas kepentingan diri mereka. Dan, semangat untuk berempati terhadap keberlanjutan perusahaan selalu sangat minim. Padahal, begitu sebuah perusahaan berdiri, maka perusahaan itu sudah seharusnya menjadi sumber daya yang harus dirawat bersama secara penuh perhatian, agar perusahaan bisa terus berkinerja tinggi untuk memperkaya para stakeholder.

Pada umumnya, pola pikir para stakeholder lebih suka melemparkan semua risiko dan tantangan perusahaan kepada pemegang saham dan manajemen. Karena, semua orang selalu berasumsi bahwa hanya pemegang saham yang telah menginvestasikan uang dalam perusahaan. Dan, pihak manajemen yang mengelola investasi tersebut. Oleh karena itu, semua stakeholder lain selain pemegang saham dan manajemen boleh merasa bebas untuk tidak memperhatikan keberlanjutan perusahaan sebagai sumber daya ekonomi dan bisnis, yang seharusnya dirawat dan dijaga secara bersama-sama oleh setiap stakeholder.

Stakeholder harus berempati kepada perusahaan, karena stakeholder hidup dan dihidupi oleh kinerja sumber daya perusahaan. Keikhlasan dan ketulusan para stakeholder untuk merasa sebagai bagian dari tubuh perusahaan, serta perilaku untuk bertanggung jawab atas tata kelola perusahaan yang sehat, akan membuat para stakeholder dapat menggantungkan kehidupannya secara berkelanjutan kepada semua kekuatan sumber daya perusahaan.

DJAJENDRA