"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi aku sedang berduaan dengan jiwaku untuk dapat bersama-sama menghargai hidup yang kami rencanakan."

BERBICARA SERIUS DENGAN JIWA

"Kenapa kau seharian diam dan merenung?"

"Aku tidak diam dan tidak sedang merenung, aku sedang berbicara serius dengan jiwaku, karena aku menyadari bahwa aku perlu membuat peta hidupku."

"Kenapa kau menyusun peta perjalan hidupmu hanya dengan berbicara pada jiwamu? Apakah itu rahasia sehingga aku tidak bisa mendengar tentang rencana hidup yang sedang kau susun?"

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi aku sedang berduaan dengan jiwaku untuk dapat bersama-sama menghargai hidup yang kami rencanakan."

"Ohh, tidak apa-apa, kalau tidak bisa menjawab pertanyaanku. Aku yakin kau sangat suka untuk berduaan bersama jiwamu untuk membuat hidupmu lebih bahagia."

"Tentu saja. Aku memang sedang mempengaruhi jiwaku agar jiwaku sejalan dengan aku untuk membuat hidup kami selalu bahagia."

"Bagaimana jiwamu mempengaruhi kebahagiaanmu?"

"Jiwaku adalah sahabat yang sangat menentukan untuk kebahagiaan diriku. Bila jiwaku hidup dalam ide dan informasi yang tak dapat aku kendalikan, maka aku dan jiwaku selalu dalam konflik."

"Oh, begitu ya. Berarti kau harus sangat sadar diri dan jujur tentang hal-hal yang ingin kau pengaruhi pada jiwamu. Bila tidak, jiwamu pasti memberontak kepada dirimu?"

"Kok kau tahu semua tentang rahasia diriku. Bukankah aku tidak mengatakan apa-apa kepadamu, dari mana kau tahu?"

"Hehehehe, aku kan bisa baca pikiranmu."

"Kok suka baca pikiran orang lain, itukan pelanggaran hak pribadi orang lain?"

"Maafkan aku kalau sudah melanggar hak pribadimu. Aku hanya ingin berbagi bersamamu bahwa hidupmu tidak hanya sebatas antara kau dan jiwamu. Tapi, hidupmu sangat luas sehingga kau harus mempertimbangkan peta hidupmu bersama Tuhan, hartamu, waktumu, pernikahanmu, orang tuamu, anakmu, kekasihmu, tubuhmu, lingkunganmu, pekerjaanmu, pimpinanmu, dan semua yang ada dalam hidupmu. Bila kau hanya membatasi hidupmu sebatas kau dan jiwamu, itu namanya kau pribadi yang egois dan yang tidak mengutamakan hal-hal lain selain jiwamu dan dirimu."

"Oh, hebat juga ternyata kau ini ya."

"Iyalah, akukan jiwamu yang kau bilang sahabatmu."

DJAJENDRA