"Perdagangan Yang Sehat Adalah Ketika Pedagang Mampu Berdagang Dengan Memahami Realitas Ekonomi Dan Daya Beli Konsumen." – Djajendra

PEDAGANG DAN PERSAINGAN DAGANG

"Perdagangan Yang Sehat Adalah Ketika Pedagang Mampu Berdagang Dengan Memahami Realitas Ekonomi Dan Daya Beli Konsumen." – Djajendra

Kompetisi bisnis semakin hari semakin ketat dan rumit. Banyak merek asing dan lokal muncul di pasar domestik untuk bersaing dengan produk yang sudah eksis di pasar. Pasar domestik sudah penuh sesak oleh barang-barang dagangan dengan berbagai merek lokal dan luar. Hal ini adalah kabar baik untuk konsumen, sebab ada banyak pilihan barang di pasar. Tapi, kabar kurang baik untuk pedagang. Sebab, semakin banyak barang, semakin banyak pesaing, akan menjadi semakin sulit mencari pelanggan setia.

Bisnis di level pedagang semakin ketat dengan margin keuntungan yang makin tipis. Biaya rutin bisnis: seperti sewa lokasi, listrik, transportasi, gaji, dan yang lainnya terus meningkat membebani perdagangan. Baru-baru ini, tanpa sengaja saya melihat dua contoh perilaku pedagang. Ke dua pedagang ini menjual produk yang sama, tapi dengan merek dagang yang berbeda.

Pedagang pertama, dia fokus untuk membangun merek dagang dengan berbagai strategi marketing. Hasilnya, popularitas dan citra dari merek produknya meningkat luar biasa. Karena banyak iklan dan promosi, hal ini mempengaruhi harga jual produk. Harga jual produknya menjadi lebih mahal dibandingkan produk sejenis yang dijual tanpa promosi dan iklan oleh pesaingnya.

Pedagang kedua, dia fokus menjaga kualitas produk dan harga murah. Strategi marketing pedagang ini hanya mengandalkan kesetiaan dan rekomendasi pelanggannya kepada orang lain. Popularitas merek dagangannya kalah jauh dari pedagang pertama. Artinya, merek dagangnya tidak terlalu terkenal. Orang-orang yang membeli produknya lebih disebabkan oleh harga murah dan kualitas bagus, bukan karena merek.

Dalam perkembangannya, pedagang pertama mengalami kesulitan mempertahankan pangsa pasar, walaupun merek produknya masih populer, tapi daya beli pelanggannya semakin hari semakin menurun. Akibatnya, pelanggannya mulai membeli dari pedagang lain karena harga produknya lebih murah dan berkualitas. Inflasi yang meningkat secara diam-diam selama bertahun-tahun telah membuat nilai uang semakin rendah. Dan hal ini tidak cukup sekedar membentuk popularitas merek, tapi juga harus dipikirkan cara melayani kebutuhan pelanggan sesuai daya beli mereka.

Popularitas merek dapat menghasilkan goodwill terhadap usaha, tapi loyalitas pelanggan oleh karena daya belinya juga bisa menghasilkan goodwill terhadap usaha. Menciptakan usaha yang selalu kompetitif perlu melihat realitas ekonomi. Setiap perdagangan harus menciptakan sebuah popularitas melalui biaya yang sangat rendah. Memaksakan diri untuk membangun popularitas secara instan dengan biaya mahal tanpa memperhitungkan daya beli konsumen akan mempengaruhi daya saing usaha.

Pedagang pertama yang popularitas mereknya masih eksis tapi tidak mampu menghasilkan keuntungan sesuai popularitas produknya. Omset per bulan pedagang pertama dari waktu ke waktu terus menurun, sedangkan omset pedagang ke dua dari waktu-ke waktu terus meningkat. Saat saya bertemu, pedagang pertama berkeluh-kesah tentang sulitnya persaingan yang membuat bisnisnya berjalan di tempat. Sedangkan pedagang kedua tersenyum puas dengan hasil usahanya yang secara bertahap meningkat dan menciptakan fondasi yang kuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com