"Harga Emas Yang Terus Meroket Dan Mencetak Rekor Harga Baru Adalah Pertanda Bahwa Nilai Uang Dari Negara Mana Pun Mulai Tidak Dipercaya." – Djajendra

MEWASPADAI KRISIS UTANG AMERIKA SERIKAT DAN EROPA

"Harga Emas Yang Terus Meroket Dan Mencetak Rekor Harga Baru Adalah Pertanda Bahwa Nilai Uang Dari Negara Mana Pun Mulai Tidak Dipercaya." – Djajendra

"Memperkuat Jumlah Aset Likuid Perusahaan Di Masa Krisis Keuangan Akan Menjamin Kelangsungan Bisnis Dan Operasional." - Djajendra

Krisis utang di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu kesehatan ekonomi dunia. Apalagi Setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P) menurunkan rating utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+. Penurunan pemeringkatan utang Amerika Serikat oleh Standard & Poor ini jelas menurunkan kredibilitas Amerika Serikat sebagai negara super power ekonomi dunia.

Penurunan rating ini telah membuat sebagian besar negara yang selama ini menyimpan mata uang Euro dan Dollar Amerika Serikat dalam cadangan devisa, mulai membeli emas untuk memperkuat cadangan devisa. Akibatnya, harga emas terus-menerus memecahkan Rekor harga baru yang belum pernah terjadi di sepanjang sejarah.
Harga emas yang terus meroket dan mencetak rekor harga baru adalah pertanda bahwa nilai uang dari negara mana pun mulai tidak dipercaya. Mata uang Euro dan Dollar Amerika yang selama ini sangat di percaya oleh dunia, terlihat mulai kehilangan power terhadap emas. Kenaikan harga emas yang luar biasa ini juga bisa menjadi pertanda bahwa ekonomi dunia sudah lama mengalami inflasi yang sangat tinggi.

Krisis utang dan inflasi tinggi pasti akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan bank. Sebab, bisnis bank adalah nilai uang. Bila nilai uang berkurang oleh krisis keuangan, maka dipastikan akan menggerogoti tingkat kesehatan bank. Bila tingkat kesehatan bank terganggu, maka akan berdampak buruk terhadap perekonomian dan distribusi uang ke sektor produktif masyarakat.

Mungkin saja Amerika Serikat akan melakukan penerbitan obligasi pemerintah dan mencetak uang dollar baru untuk menutup utang-utangnya, tapi secara ekonomi hal ini akan menimbulkan inflasi baru yang akan mempengaruhi daya beli masyarakat Amerika Serikat.

Perusahaan-perusahaan yang selama ini bisnisnya sangat mengandalkan ekspor ke negara-negara yang terlanda krisis utang. Sebaiknya, secara proaktif mulai memikirkan manajemen kelangsungan usaha. Manajemen kelangsungan usaha dapat dilakukan melalui pengelolaan risiko yang terkalkulsi secara bijak tanpa ada unsur spekulasi yang berlebihan. Di sini, prinsip kehati-hatian harus diutamakan. Menganggap remeh terhadap persoalan krisis utang Amerika Serikat dan Eropa adalah sebuah kesalahan bisnis yang sangat besar. Sebab, daya beli dunia tertinggi ada di Amerika Serikat Dan Eropa. Oleh karena itu, setiap kerjadian ekonomi di negara-negara tersebut seharusnya menjadi perhatian dalam mengelola risiko.

Bila pelaku bisnis sejak dini sudah mewaspadai dampak krisis utang Amerika Serikat dan Eropa, maka tidaklah sulit untuk mengelola risiko di perusahaan. Perusahaan juga harus menyiapkan sistem perencanaan pemulihan bisnis, untuk memastikan bisnis tetap terpelihara dengan baik, walau secara operasional mungkin bisnis mengalami kerugian dari ekspor

Memperkuat jumlah aset likuid perusahaan di masa krisis keuangan akan menjamin kelangsungan bisnis dan operasional. Perusahaan harus terus bertindak kreatif dan inovatif untuk menjamin kelangsungan pendapatan perusahaan dari pasar lokal, regional dan nasional.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Popular posts from this blog

8 JUDUL TRAINING MOTIVASI DJAJENDRA

"Karakter Etika Terbentuk Dari Nilai-Nilai Kehidupan Yang Mampu Membedahkan Mana Yang Benar Dan Mana Yang Tidak Benar Melalui Akal Sehat Dan Hati Nurani Yang Cerdas Emosi." - Djajendra