JANGAN MENJADI ORANG MALAS


BUDAYA KERJA MALAS

"Bila Seorang Karyawan Mempraktikkan Budaya Kerja Malas, Maka Dia Sedang Bekerja Untuk Merusak Kemampuan Terbaiknya." - Djajendra

"Di Saat Kepemimpinan Tidak Tegas Menegakkan Aturan Dan Etika, Maka Orang-Orang Akan Kehilangan Disiplin Dan Muncullah Budaya Kerja Malas." - Djajendra

"Datang terlambat, kalau ditanya alasannya macet. Sampai di kantor bukannya langsung kerja, tapi menelepon teman dan berbasa-basi sampai sejam. Tiba-tiba waktu sudah jam makan siang, kalau ditanya progres kerja pada belum siap. Jujur! Saya sudah sangat pusing, pak. Apakah bapak ada jawaban untuk mengatasi persoalan di kantor saya?"

"Mungkin bapak mau tahu budaya kerja kami? Budaya kerja kami adalah budaya kerja malas, dan saya sudah sangat lelah bekerja dengan orang-orang malas yang membuat saya sangat frustrasi dan putus asa."

Saya hanya mendengarkan ungkapan rasa marah dan frustasi dari pimpinan perusahaan tersebut di tengah-tengah para karyawannya. Mungkin pimpinan perusahaan tersebut berharap saya bisa memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan yang dia hadapi. Tapi, saya sendiri baru pertama kali berdiri dihadapan mereka, dan tidak mengerti apa-apa tentang isi perut perusahaan mereka. Jadi, saya hanya bisa memberikan jawaban yang bersifat normatif untuk bisa membuka hati pimpinan dan juga untuk membangkitkan disiplin kerja para karyawan.

"Jika saya harus bekerja dengan orang – orang malas, maka saya pasti akan frustrasi dan produktifitas kerja saya juga pasti turun. Oleh karena itu, saya tidak akan membiarkan diri saya bekerja di tengah orang-orang malas. Saya sebagai pimpinan dengan kekuasaan yang saya miliki pasti menegakkan aturan, etika, integritas, dan hukuman yang tegas, serta tidak akan pernah berkompromi dengan budaya kerja malas. Sebab, saya tahu bahwa sekali saya mentoleransi perilaku kerja malas dan tidak disiplin, maka moral kerja semua orang di kantor akan turun drastis, dan dampaknya sangat besar termasuk rusaknya kinerja dan reputasi perusahaan. Berapa pun biayanya dan apa pun risikonya, saya pasti lebih suka menjadi lebih tegas dan lebih mendisiplinkan orang-orang untuk menjadi lebih rajin dan lebih bertanggung jawab." Jawab saya

Suasana kelas menjadi sangat senyap dan semua mata memandang ke arah saya, terlihat mereka semua mendengarkan kata-kata saya dengan sangat serius. Lalu, mereka tepuk tangan ramai-ramai, dan acara tanya-jawab selanjutnya berjalan terus untuk membangun kesadaran mereka agar mulai detik ini menjadi lebih rajin, lebih bertanggung jawab, dan lebih disiplin di tempat kerja.

Budaya kerja malas akan merugikan semua pihak, termasuk akan sangat merugikan orang-orang yang berperilaku malas tersebut. Budaya kerja malas akan merusak kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Bila seorang karyawan mempraktikkan budaya kerja malas, maka dia sedang bekerja untuk merusak kemampuan terbaiknya, dan sedang merusak moral kerja seluruh tim, bahkan akan menyebabkan dampak negatif dalam karir setiap orang di tempat kerja.

Kepemimpinan yang tegas melalui sistem, prosedur, peraturan, kebijakan, etika yang konsisten dan adil adalah langkah awal untuk menegakkan disiplin dan menghapus dengan tegas budaya kerja malas. Pertama, pimpinan harus bertemu dengan karyawan-karyawan yang berbudaya kerja malas tersebut secara pribadi. Lalu, berbicara dari hati ke hati, dan menjelaskan kepada mereka tentang dampak buruk dari perilaku kerja malas untuk moral kerja semua orang di kantor, dan juga akan berdampak buruk terhadap karir dan masa depan mereka sendiri. Pimpinan juga harus dapat memotivasi dan membantu mereka untuk dapat merubah perilaku malas menjadi perilaku rajin dan berdisiplin tinggi. Namun, jika pendekatan persuasif ini tidak menghasilkan peluang untuk memperbaiki perilaku kerja malas tersebut, pimpinan dengan segala kewenangan yang dimiliki harus berani mengambil sikap tegas, yaitu memberhentikan orang-orang yang tidak dapat dirubah secara adil dan terbuka.

Biasanya di saat pimpinan mulai tegas untuk memberhentikan orang-orang penganut budaya kerja malas, orang-orang malas tersebut pasti akan mencoba untuk melawan dengan segala emosi dan rasa marah yang mereka miliki. Dalam hal ini sikap pimpinan yang tenang dan yang patuh pada etika, aturan, dan hukum akan sangat membantu niat untuk membersihkan dan membebaskan organisasi dari budaya kerja malas.

Pimpinan yang berkualitas pastinya sejak dini telah menggunakan strategi dan kekuasaan dengan tepat untuk membentuk perilaku kerja dan budaya organisasi dengan pilar-pilar disiplin, tanggung jawab, etika, integritas, motivasi, dan mind set positif untuk berjuang bersama organisasi dalam menciptakan karya dan prestasi yang gemilang.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com