Tuesday, 16 February 2010

Jangan Pernah Menyerah Ketika Anda Kehilangan Pekerjaan

"Hidup Itu Sebuah Perjalanan Penuh Warna, Ketika Kita Mau Mencintai Dan Menyukai Semua Warna Dari Perjalanan Hidup Kita, Kita Akan Merasakan Syukur Untuk Mengucapkan Terima Kasih Kepada Tuhan Yang Menciptakan Kita." - Djajendra

Setelah memberikan pelatihan etika bisnis untuk sebuah perusahaan di hotel Planet Holiday, Batam. Saya melanjutkan perjalanan ke Pekan Baru, Riau, untuk memberikan pelatihan ke sebuah perusahaan lain di Hotel Grand Jatra. Saya menggunakan pesawat Mandala air lines, dengan waktu penerbangan sekitar 37 menit dari Bandara Hang Nadim, Batam menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekan Baru, Riau. Perjalanan singkat dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan hati. Di pesawat saya mendapatkan kursi B, berarti saya duduk ditengah-tengah, saya duduk di antara seorang pemuda yang baru saja terkena pemutusan kontrak kerja dan harus kembali ke kampung halamannya di pinggiran Sumatra barat, yang berjarak sekitar delapan jam dari Pekan Baru dengan kendaran umum. Si pemuda duduk di sebelah kiri saya di kursi A, mungkin karena baru kehilangan pekerjaan dan tidak tahu langkah berikutnya, si pemuda menyapa saya, lalu bertanya-tanya tentang karir dan pekerjaan. Semangat si pemuda itu cukup luar biasa, tapi sepertinya dia bingung tanpa pembimbing yang mengarahkannya untuk mencapai harapan dan impian. Saat saya sedang asyik berbicara dengan si pemuda itu, penumpang lain yang mendapatkan kursi C juga sambil tersenyum duduk di sebelah kanan saya. Saya juga tersenyum dan menyapa penumpang di kursi C. Dan, saya kembali lagi berbicara dengan si pemuda yang duduk di sebelah kiri saya. Rasa kasihan saya kepada si pemuda tersebut membuat saya sejenak berubah menjadi motivator untuk membangunkan harapan dan impiannya, agar api semangat di jiwa si pemuda itu tidak padam untuk meraih semua cita-citanya. Saya katakan kepada si pemuda itu bahwa Tuhan menciptakan setiap orang untuk sukses dan menjadi kaya raya. Oleh karena itu, dia harus mampu mengelola semua potensi dirinya dengan sabar dan penuh semangat, dia harus mampu mengarahkan dirinya untuk meraih semua impiannya dengan tekun dan penuh percaya diri, dan dia juga harus selalu merawat semua kepercayaan yang diberikan oleh orang lain kepadanya dengan penuh bijaksana yang dilandasi oleh kekuatan sikap baik. Mungkin karena mendengar kata-kata saya, penumpang di sebelah kanan saya tersenyum dan mulai mengajak saya berbicara. Dia bertanya saya mau ke mana di Pekan Baru, dengan logat melayu yang sangat kental, dan saya jelaskan tujuan saya di Pekan Baru. Lalu, dia bercerita bahwa di Riau jika masyarakat asal mau berkebun pohon sawit, maka pasti makmur. Dia katakan dengan empat hektar sawit setiap orang pasti mendapatkan penghasilan minimal delapan juta per bulan. Dengan penuh percaya diri dan penuh semangat penumpang di sebelah kanan saya bercerita tentang kemakmuran dan keberhasilan orang-orang di Riau dengan hanya berkebun sawit. Saya ingin bertanya banyak hal dari bapak yang duduk di sebelah kanan saya tersebut, tapi karena waktu penerbangan dari Hang Nadim ke Sultan Syarif Kasim II begitu singkat, maka saya harus berhenti untuk bertanya. Pesawat Mandala sudah mendarat di SSK II dan kami semua sudah seperti saling tidak mengenal, dan saling antri untuk segera turun dari pesawat.